Masjid Raya Mujahidin

Masjid Raya Mujahidin berdiri megah di pusat Kota Pontianak sejak tahun 1978 ini dan diresmikannya oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo pada hari Selasa, 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H).

Gereja Katedral Santo Yoseph

Gereja Katedral Santo Yoseph yang telah berdiri sejak 9 Desember 1909 merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak.

Rumah Radakng

Rumah Radakng, itulah sebutan yang pantas untuk rumah adat terbesar di Indonesia bahkan di dunia dengan panjang 138 meter dan tinggi 7 meter sekaligus menjadi yang paling megah di Kalimantan, yang terletak di jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak.

Tugu Digulis

Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing menceritakan perjuangan pemuda Kalimantan meraih kemerdekaan RI.

Keraton Kadriyah Pontianak

Kesultanan Kadriyah Pontianak adalah sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Saturday, June 20, 2015

Pura Giri Pati Mulawarman

Pura Giri Pati Mulawarman
Pura Giri Pati Mulawarman berada Jalan Adi Sucipto No. 12, Kabupaten Kubu Raya Pontianak Kalimantan Barat.  Pujawalinya bertepatan dengan Hari Raya Galungan, Budha Kliwon Dunggulan.

Keberadaan Umat Hindu di Kalimantan Barat sudah ada sejak dahulu namun jumlah umat Hindu di Kalimantan Barat ini tidak sebanyak umat Hindu di pulau Bali, namun umat Hindu disini berasal dari berbagai suku seperti Jawa dan penduduk asal seperti suku dayak dan lain-lain.

Pura sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Pontianak ini baik kegiatan persembahyangan Purnama - Tilem, rerahinan , maupun hari Raya besar seperti Hari Raya Nyepi, Hari Raya Galungan dan Kuningan, Siwaratri, Saraswati, Pagerwesi. Umat selalu antusias dalam setiap kegiatan ini, karena inilah waktu yang tepat untuk dapat berkumpul, mesima krama menyama braya di tanah rantau Kalimantan.


Demikian juga kegiatan suka-duka mebanjar tetap dilaksanakan di lingkungan Pura Giri Pati Mulawarman ini, kegiatan kepemudaannya tidaklah kalah penting dalam selalu menjaga Budaya dan Agama Hindu dimanapun berada, seperti dalam perayaan Nyepi dengan pembuatan Ogoh-ogoh.


Peranan Parisada dalam menjaga, membina, dan merangkul setiap umat Hindu agar senantiasa bersatu dalam Dharma, dan mampu memberi sumbangan kepada daerah setempat, melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.


PURA DI PONTIANAK KALIMANTAN BARAT :

Pura Giripati Mulawarman - Alamat : Jl. Adisucipto No. 12 Ptk
Pura Giri Kertha Bhuana  - Alamat : Ds.Kalimas Sui Kakap
Pura Giri Araertha Jaya - Alamat: Ds. Rasau Jaya
Pura Prajapati - Alamat : Jl. Adisucipto Ptk
Kabupaten Bengkayang
Pura Giri Penyanggar Anantasana -  Alamat : Desa Cipta Karya
Pura Giri Purwa Dharma  - Alamat : Desa Kamuh, Sanggoledo
Kabupaten Sambas
Pura Giri Dharma Kerthi -  Alamat : Desa Spandak, Sambas
Pura Giri Mandara Jati - Alamat : Desa Keraban, Sambas
Kabupaten Ketapang
Pura Giri Amertha Bhuwana - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dalem - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura UlunSuwi  - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dadia - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Giri Komala Kencana - Alamat : Desa Kendawangan
Kabupaten Sintang
Pura Giri Penataran Agung - Alamat : DesaTinom Baru
Pura GiriLuhur  - Alamat : Desa Londang
Pura Giri Yoga Sakti - Alamat :Desa Senibung
Kabupaten Sanggau
Pura Giri Dewata Mandala - Alamat : Ds Kuala Buayan, Meliau
Pura Giri Dewata Saraga - Alamat : Ds. Mpaung Meliau


sumber Semangat Hindu. 2013. Pura Giri Pati Mulawarman. (Online) http://semangathindu.blogspot.com/2013/07/pura-giri-pati-mulawarman-pontianak.html./ Diakses : 20 Juni 2015.

Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak

Dahulu lebih dikenal dengan sebutan kelenteng tiga atau Thian Hou Keng. Menurut beberapa sumber, bangunan kelenteng tua ini di bangun pada zaman Dinasti Kang Hie ( 1645 – 1772 ).

Vihara bodhosatva karaniya metta
Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak

Vihara ini terletak di Jalan Sultan Muhammad Kampung Darat Sekip, Kelurahan Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Letak klenteng persis di ujung pertemuan ruas jalan Sultan Muhammad dan jalan Gusti Ngurah Rai, Pontianak, tak jauh dari komplek pertokoan Kapuas Indah.

Di atas gapura masuk vihara terdapat keterangan yang menunjukkan tahun 1829 M sebagai periode vihara ini. Warna merah mendominasi hampir di sebagian besar bangunan yang dahulu lebih di kenal dengan sebutan kelenteng tiga atau Thian Hou Keng . Tiang dan rangka bangunannya terbuat dari kayu ulin yang di beri warna merah dan kuning emas. Di tiga pintu utama terlukis gambar dewa-dewa Khong Hu Chu. Dinding dan altar terdapat patung dan lukisan yang bermakna tentang filosofi ajaran kehidupan.

Sejarah menceritakan bahwa pada tahun 1979 Patung Macou atau Patung Dewi Samudra telah dibawa oleh seseorang yang bermarga Kim yang berasal dari Cina. Pada saat yang sama juga didirikan kelenteng Macau atau kelenteng Dewi Samudra yang berada di Jalan Thang Seng Hie atau yang dikenal dengan sebutan Jalan Kapuas Besar ( yang dimana sekarang lebih dikenal dengan Jalan Sutan Muhammad ).

Tiang dan rangka bangunannya terbuat dari kayu ulin yang didominasi warna merah dan kuning emas. Di tiga pintu utama terlukis gambar Dewa – dewa Kong Hu Chu. Dan dinding dan altar yang terdapat patung dan lukisan yang bermakna tentang filosofi ajaran kehidupan.

vihara
Vihara tampak dari depan
Dalam Perkembangan sejarahnya kelenteng ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran sampai seperti keadaan yang seperti sekarang ini. Kelenteng ini sering ramai dikunjungi setiap tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan imlek. Mereka yang datang tidak hanya dari seputar Pontianak namun mereka juga datang dari luar kota.

Sementara itu, di bagian luar vihara, sejauh mata memandang, kawasan di luar vihara merupakan pelataran yang berfungsi sebagai “terminal” dan area bongkar muat kendaraan bis dan kapal motor yang melayani rute dari Pontianak menuju daerah perhuluan Kalimantan Barat. Nampak sejumlah truk dan bis diparkir di area terminal, sementara beberapa kapal motor sedang melakukan aktivitas bongkar muat di tepian Sungai Kapuas, persis bersebelahan dengan area terminal.

sumber NN. 2015. Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak. (Online) http://wisatapontianak.com/vihara-bodhissatva-karaniya-metta-pontianak/. Diakses : 20 Juni 2015.

Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak

Gereja Katedral Santo Yoseph yang telah berdiri sejak 9 Desember 1909 merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak. Tidak bisa dipungkiri, bangunan gereja yang sudah berumur lebih dari 100 tahun ini sudah tidak lagi cukup untuk menampung jumlah umat Katolik yang semakin bertambah di Pontianak. Hal ini terlihat jelas pada setiap misa hari Minggu yang walaupun sudah dilakukan sebanyak 4 kali, sejumlah umat yang hadir tidak tertampung lagi dan harus rela berdiri untuk dapat mengikuti misa.


Menanggapi kondisi tersebut maka diputuskan untuk membangun kembali gereja ini agar di masa yang akan datang dapat menampung lebih banyak umat. Bukan sekedar pemugaran, pihak pengurus gereja berencana mengganti dengan bangunan yang benar-benar dengan pertimbangan bahwa gereja ini telah dipugar selama 3 kali sejak berdiri dan terakhir adalah 49 tahun yang lalu tidak membuahkan hasil yang berarti. Dinding kayu yang sudah tua dan lapuk merupakan salah satu pertimbangan untuk dilakukan pembangunan ulang.Akhirnya pada tahun 2011, bangunan gereja mulai dirobohkan.Ketua pembangunan gereja, Ny. Federika Cornelis mengaku pada awalnya panitia mengalami kesulitan mendapatkan dana untuk membangun gereja. Namun seiring berjalannya waktu dan tak lepas dari karunia Tuhan, sumbangan pun semakin banyak mengalir dari berbagai pihak.


Bangunan gereja dirancang oleh arsitek asli dari Kalimantan Barat didampingi Tim Asistensi Pembangunan Gereja. Model gereja mengacu arsitektur klasik "Corinten" yang terlihat dari kubah bulat sebagai kubah utama dan diatasnya ada kubah kecil lagi yang disebut "Rotunda". Konstuksi kubah utama menggunakan space frame atau rangka ruang merupakan konstruksi yang terbilang canggih di Kalimantan Barat dan pertama kali digunakan untuk bangunan gereja. Bangunan yang mengambil gaya gothic dan berpatokan pada patron zaman Bizantium pada abad ke-4 diharapkan bisa sedikit menyerupai kemegahan Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan dan dapat menjadi kebanggaan masyarakat Pontianak terutama kalangan gereja.


Pembangunan gereja telah memasuki tahap akhir dan telah diresmikan pada tanggal 19 Desember 2014 oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH. Gedung Gereja Katedral yang baru memiliki dua lantai yang dipakai untuk misa dan dapat menampung sekitar 3000 umat. Ada basement yang berfungsi sebagai tempat parkir, Plaza Maria, ruang adorasi, dan ruang abu yang dilengkapi dengan AC central dan lift. Memasuki gereja, gaya klasik Eropa langsung terasa. Cahaya menyembul dari kaca-kaca besar berwarna warni dengan hiasan gambar-gambar religius seperti pada gereja di Eropa. Ornamen bernuansa Dayak tampak dominan dan ukiran khas Dayak mengelilingi dinding gedung. Uniknya, tidak semua barang di dalam gereja adalah baru, Altar dan pintu utama gereja menggunakan kayu berlian yang diambil dari pilar gereja Katedral lama untuk mengenang bangunan gereja sebelumnya.Ada juga patung burung ruai dari kayu berlian di halaman gereja. Di pelataran juga berdiri patung Santo Yosef berukuran raksasa.

Pencapaian pembangunan gereja wajib disyukuri bersama dan merupakan upaya untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada umat agar dapat lebih nyaman berbakti dan memuliakan nama Tuhan. Gereja adalah tempat ibadah dan sebagai sarana untuk mendalami agama harus dapat dipergunakan sebaik-baiknya dan diharapkan secara langsung dapat memberikan pengaruh positif kepada masyarakat serta berpartisipasi bersama umat lain dalam mewujudkan suasana yang aman, tenteram, damai dan sejahtera, baik secara internal, dengan gereja maupun umat lain. Pemberkatan meriah akan dilaksanakan pada tanggal 19 maret 2015 yang bertepat dengan Hari Raya Santo Yoseph.

Jadwal misa di gereja Katedral:
- Misa harian : 05.30 WIB
- Jumat pertama : 17.30 WIB
- Minggu : 06.00, 08.30, 16.30, 19.00 WIB


Photos by:
Silverius Irwan, Danniel Parogi Tambunan


sumber Silverius Irwan. 2015. Gereja Katedral Santo Yoseph. (Online) hhttp://pontinesia.com/berita/gereja-katedral-santo-yoseph. Diakses : 20 Juni 2015.

Masjid Raya Mujahidin Jadi Landmark Islami Kota Pontianak

Masjid Raya Mujahidin, yang berdiri megah di pusat Kota Pontianak sejak tahun 1978 ini, telah memasuki tahap akhir renovasi pembangunannya. Hal ini ditandai dengan diresmikannya Masjid terbesar di Kalimantan Barat tersebut oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo pada hari Selasa, 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H). 

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti. Dalam acara tersebut, Presiden yang didampingi Ibu Negara melakukan peninjauan kesejumlah bagian Masjid Raya Mujahidin. Ikut hadir dalam peresmian tersebut, antara lain: Sekretaris Kabinet (Andi Wijayanto), Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Umum Pembangunan (Oesman Sapta Odang), Wakil Ketua MPR (Hidayat Nurwahid), Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Sidharta Danusubroto), Kepala BIN (Maciano Norman), Gubernur Kalimantan Barat (Drs. Cornelis, M.H), Walikota Pontianak (H. Sutarmidji), Jajaran MUSPIDA serta masyarakat umum. Kedatangan Presiden di Kota Pontianak ini juga disambut dengan tradisi tepung tawar, yang merupakan tradisi khas masyarakat Melayu Pontianak.

Sejak masa-masa awal pembangunannya, Masjid kebanggaan ummat muslim Kalimantan Barat ini menyimpan histori perjuangan panjang. Dipilihnya nama Mujahidin untuk yayasan dan masjid yang dirintis tersebut, diusulkan oleh Achmad Mawardi Djafar, dengan pemikiran mengabadikan perjuangan kaum muslim dalam kancah kolektif mempersembahkan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Mereka maksudkan, Mujahidin sebagai monumen perjuangan ummat. 


Para penggagas yayasan Mujahidin sendiri notabene-nya adalah pelaku sejarah di daerah ini, khususnya Achmad Mawardi Djafar dan H.Achmad Manshur Thahir. Setelah menempuh jangka waktu sekitar 30 tahun sejak inisiatif awal pembangunan yang ditandai dengan didirikannya Yayasan Mujahidin, akhirnya terwujudlah Masjid yang menjadi pusat dakwah islam di tengah Kota Pontianak, dengan nama Masjid Raya Mujahidin. Masjid ini diresmikan Presiden RI Soeharto pada 23 Oktober 1978 bersamaan 20 Zulkaidah 1398 bertepatan Hari Jadi ke 207 Kota Pontianak.


Tahap renovasi/pemugaran Masjid Raya Mujahidin yang dimulai sejak November tahun 2011 ini juga menyimpan makna perjuangannya. Pembangunan yang diketuai oleh Oesman Sapta Odang tersebut, menonjolkan arsitektur khas Kalimantan Barat dan ikon Pontianak sehingga menjadi daya tarik tersendiri sebagai landmark Islami Kota Khatulistiwa. Masjid Raya Mujahidin dapat menampung hingga 9 ribu jamaah. 


Bangunan masjid berlantai dua ini memiliki luas 60 meter x 60 meter di atas lahan seluas kurang lebih 4 hektar. Halaman luar masjid pun juga bisa menampung kurang lebih sebanyak 1.600 mobil jamaah yang akan beribadah di Masjid kebanggaan Kota Pontianak dan Kalimantan Barat tersebut. Keberadaan Masjid Raya Mujahidin dengan "wajahbaru" ini diharapkan dapat semakin menggiatkan dan mendukung aktivitas ibadah kaum muslim maupun sebagai pusat dakwah dan kajian Islam.

sumber Ridho Brilliantoro. 2015. Masjid Raya Mujahidin Jadi Landmark Islami Kota Pontianak. (Online) http://pontinesia.com/index.php?berita&id=15. Diakses : 20 Juni 2015.

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Jami 

Masjid Jami – atau dengan nama lainnya Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid ini menjadi saksi bisu tiap-tiap peristiwa yang terjadi di Pontianak sejak datangnya Rombongan Sultan karena merupakan masjid tertua di Pontianak dan di bangun pada abad ke-18. Salah satu hal menariknya adalah, Masjid ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya walaupun sudah dilakukan beberapa perbaikan.

Lokasi dan Akomodasi

Lokasi dari Masjid Jami berada di persimpangan antara muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak, atau secara administratif berlokasi di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Hanya berjarak sekitar 200 meter dari masjid ini, terletak Istana Kadriyah. Untuk menuju lokasi masjid, anda bisa menggunakan beberapa opsi kendaraan baik kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. 

Jika anda ingin menggunakan kendaraan umum, anda bisa menggunakan angkutan kota dengan jurusan Siantan Hulu ataupun Siantan Hilir yang berwarna putih. Lalu turun tak jauh setelah anda melewati Jembatan Kapuas yakni Jalan Perintis Kemerdekaan. Ongkos yang harus anda bayarkan adalah Rp 2.500,- . setelah anda turun, anda harus menyambung angkutan berupa ojek dengan ongkos sekitar Rp 4.000,- lalu anda bisa langsung tiba di Masjid Jami.

Tetapi, jika anda ingin menikmati perjalanan sembari menikmati indahnya sungai Kapuas, anda bisa naik angkutan air berupa sampan atau speed boat yang bisa anda temukan di Pelabuhan Seng Hie. Perjalanan juga tidak terlalu jauh karena hanya berjarak sekitar 150 meter. Ongkos yang anda keluarkan juga cukup hemat yakni sekitar Rp 5.000,-

Bagi anda yang ingin menggunakan kendaraan sendiri, rute yang harus anda ambil jika dari Jalan Tanjung Pura yang merupakan salah satu Jalan Utama di Pusat Kota Pontianak adalah, ambil jalan menuju selatan dan belok kiri menuju Jalan Perintis Kemerdekaan dan menyebrangi Sungai Kapuas. Lalu berbelok ke kiri, di belokan ketiga setelah anda menyebrang jembatan untuk memasuki Jalan Tanjung Raya 1. Sekitar 1 km, lalu berbelok ke kiri. Tak jauh dari sini anda akan melihat Masjid Jami yang berada di tepi sungai Kapuas.

Untuk masalah kuliner, anda tidak perlu bingung. Di sekitar masjid sudah banyak restoran-restoran terapung yang bisa anda nikmati hidangannya. Serta jika anda ingin membeli oleh-oleh, anda bisa menemukannya disekitar masjid karena di sekitar masjid ini merupakan area yang dihuni oleh banyak masyarakat.

Sejarah Singkat

Pada tanggal 23 oktober 1771 Masehi, rombongan Sultan Syarif Abdullah menemukan sebuah lokasi yang cocok untuk dijadikan pemukiman baru, dimana lokasinya berada di persimpangan sungai Kapuas kecil dan sungai landak. Lalu dimulailah pembabatan hutan untuk dijadikan tempat tinggal. 

Setelah dilakukan pembabatan, dibangunlah sebuah masjid dan pemukiman di tempat ini yang lambat laun berkembang menjadi sebuah kota yakni Pontianak. Pada awalnya masjid ini dibangun dengan atap rumbia dan menggunakan bahan bangunan berupa kayu. Saat ini, bangunan masjid sudah direnovasi tetapi tidak meninggalkan bentuk asli dari sejak awal di bangun.

Wisata

Masjid ini berada di antara perkampungan penduduk di Kampung Beting. Di bagian depan masjid bisa kita lihat hamparan sungai Kapuas, sehingga memperindah suasana ketika berada di Masjid ini. Sedangkan di sisi kiri masjid, anda bisa menemukan pasar ikan tradisional karena lokasi yang berada di pinggir sungai. Beberapa meter ke arah selatan, berdiri kokoh Istana Kadriyah yang menjadi pusat pemerintahan pada masa kesultanan.

Masjid Jami, bisa menampung hingga 1500 jema’ah. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Pontianak dengan ukuran 33,27 x 27,74 meter dan 90% dari bangunan masjid ini terbuat dari kayu belian. Seperti yang dapat dilihat, bahan lantai, dinding, menara, pagar bahkan bedug yang ada di Masjid ini terbuat dari kayu belian. Masjid ini ditopang oleh 6 tonggak besar dengan diameter sekitar 60 cm serta 16 tonggak kecil lainnya yang menyangga masjid. Tonggak-tonggak tersebut pun terbuat dari kayu belian.

Atap masjid memiliki empat tingkat, bahan atap tersebut saat ini sudah terbuat dari sirap dan kayu belian yang tipis. Tingkat kedua masjid dihiasi dengan adanya jendela-jendela kecil serta di tiap sisinya bisa kita lihat gardu yang berjumlah empat buah. Ada yang menginterpretasikan bahwa makna dari jumlah gardu ini adalah sahabat nabi.

Nuansa bergaya eropa juga bisa anda lihat di arsitektur masjid ini yakni dengan bentuk pintu dan jendelanya yang berukuran besar serta terdiri dari dua buah daun pintu. Ya, masjid ini memiliki 3 buah pintu utama yang terletak di depan, dan dua lainnya di sisi kanan dan kiri masjid. Tak sebatas 3 buah pintu saja, masjid ini juga memiliki 20 pintu lainnya yang berukuran lebih kecil, tak sampai 2 meter tingginya, belum lagi banyaknya jendela yang besarnya hampir seukuran dengan pintu. Bentuk dari atap bagian paling atas, yakni atap keempat juga berbentuk mirip seperti lonceng, sehingga memberi kesan adanya percampuran arsitektur bergaya eropa. 

Di bawah masjid, dulunya ada kolong yang dengan tinggi 50 cm. Tapi saat ini sudah di cor dengan semen untuk mengantisipasi pelapukan kayu karena terkikis oleh air sungai Kapuas, karena lokasi masjid yang berdiri langsung tepat di atas sungai Kapuas.

Hal yang cukup menarik di masjid ini adalah bentuk dari mimbar yang mirip dengan geladak kapal yang berhias kaligrafi yang tertulis di dalam plafon di sisi kiri dan kanannya. Hal ini mencirikan budaya timur yang berkembang juga pada kebudayaan di masa itu. Warna kuning, tetap mendominasi isi masjid ini. Karena kseultanan Kadriyah merupakan kesultanan yang erat dengan budaya melayu. Sedangkan atap plafon dari masjid, di cat dengan warna hijau.

Tips
 
1. Jika anda datang dengan angkutan air berupa sampan, sempatkan untuk sedikit mengelilingi pinggiran masjid untuk melihat bangunan ini jika dilihat dari arah sungai Kapuas

2. Ingin merasakan solat di atas perahu? Ketika jema’ah sangat ramai, terutama saat sholat ied, anda bisa melihat beberapa jema’ah yang solat di atas perahu sampan.

3. Tetapi bagi anda yang hanya ingin melihat-lihat, datanglah pada saat sedang tidak berlangsung hari-hari besar Islam agar anda tidak kesulitan untuk melihat-lihat masjid karena suasana yang ramai.

Cukup jarang masjid tertua di suatu kota yang masih mempertahankan bentuk aslinya, salah satunya adalah sebuah Masjid tertua yang berada di kota Pontianak ini, yakni Masjid Jami Syarif Abdurrahman. Selain melihat keadaan masjid, anda juga bisa menikmati indahnya sungai Kapuas dan Istana Kadriyah yang hanya berjarak beberapa meter saja. Selain menikmati wisata sejarah, anda juga mendapati wisata religi dan wisata alam.

sumber NN. 2014. Masjid Jami. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/masjid-jami/. Diakses : 20 Juni 2015.