Masjid Raya Mujahidin

Masjid Raya Mujahidin berdiri megah di pusat Kota Pontianak sejak tahun 1978 ini dan diresmikannya oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo pada hari Selasa, 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H).

Gereja Katedral Santo Yoseph

Gereja Katedral Santo Yoseph yang telah berdiri sejak 9 Desember 1909 merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak.

Rumah Radakng

Rumah Radakng, itulah sebutan yang pantas untuk rumah adat terbesar di Indonesia bahkan di dunia dengan panjang 138 meter dan tinggi 7 meter sekaligus menjadi yang paling megah di Kalimantan, yang terletak di jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak.

Tugu Digulis

Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing menceritakan perjuangan pemuda Kalimantan meraih kemerdekaan RI.

Keraton Kadriyah Pontianak

Kesultanan Kadriyah Pontianak adalah sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Saturday, June 20, 2015

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Jami 

Masjid Jami – atau dengan nama lainnya Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid ini menjadi saksi bisu tiap-tiap peristiwa yang terjadi di Pontianak sejak datangnya Rombongan Sultan karena merupakan masjid tertua di Pontianak dan di bangun pada abad ke-18. Salah satu hal menariknya adalah, Masjid ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya walaupun sudah dilakukan beberapa perbaikan.

Lokasi dan Akomodasi

Lokasi dari Masjid Jami berada di persimpangan antara muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak, atau secara administratif berlokasi di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Hanya berjarak sekitar 200 meter dari masjid ini, terletak Istana Kadriyah. Untuk menuju lokasi masjid, anda bisa menggunakan beberapa opsi kendaraan baik kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. 

Jika anda ingin menggunakan kendaraan umum, anda bisa menggunakan angkutan kota dengan jurusan Siantan Hulu ataupun Siantan Hilir yang berwarna putih. Lalu turun tak jauh setelah anda melewati Jembatan Kapuas yakni Jalan Perintis Kemerdekaan. Ongkos yang harus anda bayarkan adalah Rp 2.500,- . setelah anda turun, anda harus menyambung angkutan berupa ojek dengan ongkos sekitar Rp 4.000,- lalu anda bisa langsung tiba di Masjid Jami.

Tetapi, jika anda ingin menikmati perjalanan sembari menikmati indahnya sungai Kapuas, anda bisa naik angkutan air berupa sampan atau speed boat yang bisa anda temukan di Pelabuhan Seng Hie. Perjalanan juga tidak terlalu jauh karena hanya berjarak sekitar 150 meter. Ongkos yang anda keluarkan juga cukup hemat yakni sekitar Rp 5.000,-

Bagi anda yang ingin menggunakan kendaraan sendiri, rute yang harus anda ambil jika dari Jalan Tanjung Pura yang merupakan salah satu Jalan Utama di Pusat Kota Pontianak adalah, ambil jalan menuju selatan dan belok kiri menuju Jalan Perintis Kemerdekaan dan menyebrangi Sungai Kapuas. Lalu berbelok ke kiri, di belokan ketiga setelah anda menyebrang jembatan untuk memasuki Jalan Tanjung Raya 1. Sekitar 1 km, lalu berbelok ke kiri. Tak jauh dari sini anda akan melihat Masjid Jami yang berada di tepi sungai Kapuas.

Untuk masalah kuliner, anda tidak perlu bingung. Di sekitar masjid sudah banyak restoran-restoran terapung yang bisa anda nikmati hidangannya. Serta jika anda ingin membeli oleh-oleh, anda bisa menemukannya disekitar masjid karena di sekitar masjid ini merupakan area yang dihuni oleh banyak masyarakat.

Sejarah Singkat

Pada tanggal 23 oktober 1771 Masehi, rombongan Sultan Syarif Abdullah menemukan sebuah lokasi yang cocok untuk dijadikan pemukiman baru, dimana lokasinya berada di persimpangan sungai Kapuas kecil dan sungai landak. Lalu dimulailah pembabatan hutan untuk dijadikan tempat tinggal. 

Setelah dilakukan pembabatan, dibangunlah sebuah masjid dan pemukiman di tempat ini yang lambat laun berkembang menjadi sebuah kota yakni Pontianak. Pada awalnya masjid ini dibangun dengan atap rumbia dan menggunakan bahan bangunan berupa kayu. Saat ini, bangunan masjid sudah direnovasi tetapi tidak meninggalkan bentuk asli dari sejak awal di bangun.

Wisata

Masjid ini berada di antara perkampungan penduduk di Kampung Beting. Di bagian depan masjid bisa kita lihat hamparan sungai Kapuas, sehingga memperindah suasana ketika berada di Masjid ini. Sedangkan di sisi kiri masjid, anda bisa menemukan pasar ikan tradisional karena lokasi yang berada di pinggir sungai. Beberapa meter ke arah selatan, berdiri kokoh Istana Kadriyah yang menjadi pusat pemerintahan pada masa kesultanan.

Masjid Jami, bisa menampung hingga 1500 jema’ah. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Pontianak dengan ukuran 33,27 x 27,74 meter dan 90% dari bangunan masjid ini terbuat dari kayu belian. Seperti yang dapat dilihat, bahan lantai, dinding, menara, pagar bahkan bedug yang ada di Masjid ini terbuat dari kayu belian. Masjid ini ditopang oleh 6 tonggak besar dengan diameter sekitar 60 cm serta 16 tonggak kecil lainnya yang menyangga masjid. Tonggak-tonggak tersebut pun terbuat dari kayu belian.

Atap masjid memiliki empat tingkat, bahan atap tersebut saat ini sudah terbuat dari sirap dan kayu belian yang tipis. Tingkat kedua masjid dihiasi dengan adanya jendela-jendela kecil serta di tiap sisinya bisa kita lihat gardu yang berjumlah empat buah. Ada yang menginterpretasikan bahwa makna dari jumlah gardu ini adalah sahabat nabi.

Nuansa bergaya eropa juga bisa anda lihat di arsitektur masjid ini yakni dengan bentuk pintu dan jendelanya yang berukuran besar serta terdiri dari dua buah daun pintu. Ya, masjid ini memiliki 3 buah pintu utama yang terletak di depan, dan dua lainnya di sisi kanan dan kiri masjid. Tak sebatas 3 buah pintu saja, masjid ini juga memiliki 20 pintu lainnya yang berukuran lebih kecil, tak sampai 2 meter tingginya, belum lagi banyaknya jendela yang besarnya hampir seukuran dengan pintu. Bentuk dari atap bagian paling atas, yakni atap keempat juga berbentuk mirip seperti lonceng, sehingga memberi kesan adanya percampuran arsitektur bergaya eropa. 

Di bawah masjid, dulunya ada kolong yang dengan tinggi 50 cm. Tapi saat ini sudah di cor dengan semen untuk mengantisipasi pelapukan kayu karena terkikis oleh air sungai Kapuas, karena lokasi masjid yang berdiri langsung tepat di atas sungai Kapuas.

Hal yang cukup menarik di masjid ini adalah bentuk dari mimbar yang mirip dengan geladak kapal yang berhias kaligrafi yang tertulis di dalam plafon di sisi kiri dan kanannya. Hal ini mencirikan budaya timur yang berkembang juga pada kebudayaan di masa itu. Warna kuning, tetap mendominasi isi masjid ini. Karena kseultanan Kadriyah merupakan kesultanan yang erat dengan budaya melayu. Sedangkan atap plafon dari masjid, di cat dengan warna hijau.

Tips
 
1. Jika anda datang dengan angkutan air berupa sampan, sempatkan untuk sedikit mengelilingi pinggiran masjid untuk melihat bangunan ini jika dilihat dari arah sungai Kapuas

2. Ingin merasakan solat di atas perahu? Ketika jema’ah sangat ramai, terutama saat sholat ied, anda bisa melihat beberapa jema’ah yang solat di atas perahu sampan.

3. Tetapi bagi anda yang hanya ingin melihat-lihat, datanglah pada saat sedang tidak berlangsung hari-hari besar Islam agar anda tidak kesulitan untuk melihat-lihat masjid karena suasana yang ramai.

Cukup jarang masjid tertua di suatu kota yang masih mempertahankan bentuk aslinya, salah satunya adalah sebuah Masjid tertua yang berada di kota Pontianak ini, yakni Masjid Jami Syarif Abdurrahman. Selain melihat keadaan masjid, anda juga bisa menikmati indahnya sungai Kapuas dan Istana Kadriyah yang hanya berjarak beberapa meter saja. Selain menikmati wisata sejarah, anda juga mendapati wisata religi dan wisata alam.

sumber NN. 2014. Masjid Jami. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/masjid-jami/. Diakses : 20 Juni 2015.

Makam Kesultanan Pontianak

Komplek Makam Kesultanan Pontianak
Makam Kesultanan Pontianak yang terletak di Batulayang, atau bisa juga disebut dengan Makam Batu Layang adalah lokasi Pemakaman dari Kesultanan Pontianak, mulai dari Sultan Pertama ( Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie ) hingga ( Sultan Hamid II ) serta beberapa keluarga Sultan. Tempat ini biasanya ramai dikunjungi khususnya pada Hari Besar Islam. Makam ini terletak kurang lebih 2 kilometer dari Tugu Khatulistiwa yang dapat dikunjungi dengan menggunakan transportasi darat maupun transportasi air ( sampan ).

Kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Pontianak ini terletak di Batu Layang, Pontianak Utara. Dari sisi dungai kapuas di sekitar makam, dapat kita saksikan keindahan sungai kapuas, terlebih lagi pada saat matahari terbenam.

sumber disbudparpontianak. 2014. Makam Kesultanan Pontianak. (Online) http://disbudparpontianak.blogspot.com/2014/07/makam-kesultanan-pontianak.html/. Diakses : 20 Juni 2015.

Istana Kadriyah – Pontianak

Keraton Kadriah Pontianak

Istana Kadriyah – Pernahkah anda mendengar tentang asal-usul kota Pontianak? Asal-muasal kota Pontianak ini berkaitan erat dengan Keraton Kadriyah, atau yang terkenal dengan nama Istana Kadriyah. Merupakan salah satu bangunan yang bernilai historis tinggi, dan berasal dari masa kesultanan di Pontianak.

Lokasi dan Akomodasi

Istana Kadriyah yang merupakan istana terbesar di kota Pontianak itu sendiri terletak di Pinggiran antara Sungai Kapuas dan Sungaia Landak, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, tepatnya berada di Kampung Dalam, Tanjung Hilir, Pontianak Utara, lokasinya juga hanya berjarak kurag lebih sekitar 100 meter dari tepi sungai tersebut. Untuk menuju ke lokasi Istana Kadriyah ini, anda menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi, hal ini di karenakan lokasi Istana Kadriyah ini berada tidak jauh Pusat kota Pontianak sehingga tidak akan terlalu sulit untuk menemukannya.

Jika anda menggunakan kendaraan sendiri, anda bisa mulai start dari pusat kota Pontianak, lurus saja samai bertemu jalan urip sumiharjo, lalu terus saja menuju jalan Tanjung Pura belok kanan, lurus terus hingga anda sampai di simpang 4 lampu merah, belok ke kiri menuju jalan Perintis kemerdekaan, setelah bertemu dengan jalan Tanjung Raya dibelokkan pertama disebelah kiri anda belok ke sana, ikuti saja jalan hingga di sebelah kiri anda bisa melihat Gapura yang merupakan gerbang dari Istana Kadriyah itu, akan tetapi jika anda masih bingung untuk menemukan jalannya, jangan ragu untuk bertanya-tanya kepada warga sekitar.

Namun, jika anda menggunakan kendaraan umum, anda bisa menggunakan angkutan kota (angkot) yang berwarna putih dengan rute atau jurusan Siantan Hilir, angkot ini berangkat dari terminal Kapuas dan berhenti setelah anda sampai di jalan Perintis Kemerdekaan.

Atau angkot yang berwarna putih juga dengan jurusan Siantan Hulu, akan tetapi pastikan pastikanlah kepada sang supir jiks angkot tersebut melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan. Lalu, setelah sampai di jalan Perintis Kemerdekaan anda bisa meanjutkan naik ojek atau becak untuk sampai ke lokasi Istana Kadriyah, atau anda bisa memanggil taksi jika tidak ingin kepanasan.

Ada juga beberapa angkot lain yang bisa anda gunakan, contohnya angkot berwarna Kuning jurusan Sungai Raya, angkot berwarna Biru Tua jurusan Penjara-Kapuas, atau angkot Hijau muda jurusan sungai Jawi, bila anda sudah sampai di jalan Tanjung Pura, anda berhenti dan menyambung bus yang meewati jembatan Kapuas, jika sudah sampai di jalan Tanjung Raya, anda bisa menyambung naik becak atau ojek. Lalu, jika anda naik angkot berwarna Biru Tua dengan jurusan Penjara-Gajah Mada, anda berhenti di jalan Veteran untuk menyambung bus untuk sampai di jalan Perintis Kemerdekaan dan Tanjung Raya.

Ongkos angkot dan bus kota yang harus anda keluarkan untuk menuju ke lokasi Istana Kadriyah ini juga tidak berbeda, semuanya sama, yaitu Rp 2.500,- sedangkan harga ojek dari Tanjung Raya ke Istana Kadriyah ini sekitar Rp 5.000,-. Selain menggunakan kendaraan umum, anda juga bisa menggunakan taksi, untuk harganya tentu saja berdasarkan perhitungan argometer taksi tersebut, dengan seberapa jauh jarak anda dengan lokasi tujuan anda.

Sejarah Singkat

Istana Pontianak yang bernama Kadriyah ini, dulunya di dirikan oleh Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri pada tahun 1771 M, dimana saat masih muda beliau merupakan pedagang yang sering bekerja sama dengan saudagar-saudagar dari berbagai Negara, dan telah sering mengunjungi berbagai daerah di wilayah Nusantara, dan setelah membangun istana kadriyah, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri (1738-1808 M) dinobatkan menjadi sultan pertama di kota Pontianak ini.

Ruang Utama Keraton
Wisata

Istana Kadriyah yang berada di tepian sungai Kapuas dan Sungai Landak ini, ukurannya berkisar 30 x 50 meter persegi dan mempunyai 3 tingkat atau 3 lantai, karena memang Istana Kadriyah ini merupakan istana terbesar di Provinsi Kalimantan Barat. Istana kota Pontianak yang megah ini pun telah mengalami proses renovasi dan rekonstruksi sehingga bisa sebesar yang bisa anda lihat sekarang, meskipun memang sekarang keadannya agak kurang terawat, tetapi masih tetap menampilkan ciri khas dari bentuk aslinya.

Jika anda datang ke Istana Kadriyah ini maka dihalamannya yang amat luas itu anda bisa melihat 13 buah koleksi meriam kuno dari Portugis dan Perancis pada tiap sisi, misalnya di sisi kanan, tengah, dan kiri dari bagian depan istana. Dari bagian depan itu juga anda bisa melihat sebuah anjungan (seperti sebuah ruangan yang agak maju kearah depan atau mirip halnya seperti balkon, namun bedanya kalau balkon itu umumnya terletak di lantai-lantai atas). Dulunya, anjungan ini sering di gunakan sultan untuk bersantai-santai sembari menikmati keindahan yang di pamerkan oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak tersebut.

Disana juga terdapat sebuah lonceng besar yang digunakan sebagai alarm, jadi bila anda sedang berkunjung kesana dan tidak sengaja terjadi hal-hal yang darurat, jangan kaget jika anda anda mendengar gema lonceng yang kuat, sebaiknya anda jangan terlalu dekat dengan posisi lonceng.

Pada pintu utama Istana Kadriyah ini anda bisa melihat hiasan seperti mahkota dengan 3 buah ukiran yang menyerupai bentuk bulan dan bintang, dimana katanya ukiran tersebut melambangkan agama islam, jadi hal tersebut menandakan bahwa Kesultanan Pontianak ini adalah kesultanan islam.

Istana Kadriyah ini juga memiliki sebuah balai pertemuan yang jika anda masuk ke dalam ruangan tersebut, anda akan melihat betapa warna kuning sangat mendominasi seisi ruangan, hal ini dikarenakan menurut adat melayu warna kuning adalah warna yang melambangkan kewibawaan dan tingginya budi pekerti suatu kaum. Balai pertemuan ini selalu dijadikan tempat untuk melakukan upacara keagamaan atau tempat untuk menerima tamu-tamu sultan. Di ruangan ini juga anda bisa melihat bentuk dari singgasana sultan dan permaisurinya. Selain itu, anda juga bisa melihat beberapa foto dari para sultan kota Pontianak, serta lambang dari kesultanan Pontianak itu sendiri.

Tips
 
1. Ajaklah keluarga dan teman-teman anda untuk mengunjungi Istana Kadriyah ini, dan sempatkan untuk menyaksikan pemandangan indah serta akifitas di dermaga feri di sungai Kapuas dari anjungannya.

2. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan bagaimana bentuk kamar-kamar keluarga sultan, siapa tau anda ingin mencontoh dekorasinya untuk kamar anda.

3. Cicipilah beberapa kuliner khas kota Pontianak disekitar Istana Kadriyah ini, jangan lewatkan tempat belanja yang ada di sekitar Istana Kadriyah ini karena belum tentu anda bisa menemmukannya di pasar lainnya.

Sangat menarik kan? Jadi, jangan lewatkan tempat bersejarah yang satu ini ya, dengan begitu anda bisa tau siapa saja yang mempelopori awal terbentuknya kota pontianak ini, dan bagaimana cantiknya pemandangan sungai kapuas dari sana.

sumber NN. 2014. Istana Kadriyah. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/istana-kadriyah/. Diakses : 20 Juni 2015.

Taman Makam Batu Layang

Makam Kesultanan Pontianak
Taman Makam Batu Layang – dari namanya saja sudah bisa terlihat kalau tempat ini merupakan tempat pemakaman. Lantas, apa yang membuatnya istimewa di Kota yang akrab dengan sebutan Bumi Khatulistiwa ini? Makam ini menjadi istimewa karena merupakan kompleks pemakaman dari Sultan-sultan di Pontianak beserta beberapa keluarga Sultan, sehingga menjadi salah satu tempat yang sering di datangi wisatawan ataupun penduduk lokal.

Lokasi dan Akomodasi

Letak Taman Makam Batu Layang ini berada sekitar 7 km dari pusat kota Pontianak atau tepatnya 2 km dari lokasi Tugu Khatulistiwa. Lokasi makam ini berada di kelurahan Batu Layang, Pontianak. Tentunya untuk menuju lokasi pemakaman ini anda bisa menggunakan beberapa alternatif kendaraan, baik kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Jika anda menggunakan kendaraan pribadi dan belum tahu rute yang harus di ambil, ambillah start perjalanan anda dari Jalan Tanjung Pura, dari sini ikuti jalan utama hingga anda menemukan simpang tiga. Lalu belok kiri menuju Jalan Perintis Kemerdekaan dan menyebrangi sungai Kapuas. 

Jalan lurus, hingga anda memasuki Jalan Sultan Hamid 2 dan dilanjutkan dengan belok kiri memasuki Jalan Gusti Situt Mahmud dan Jalan Khatulistiwa, anda akan melewati Tugu Khatulistiwa, tinggal 2 km lagi dari sini dan anda akan melewati Jalan Mempawah-Pontianak dan belok ke kiri, sekitar 220 meter belok ke kanan. Sekitar 40 meter anda akan melihat belokkan pertama ke kanan, ambil jalan situ dan anda sudah bisa melihat pendopo dari Taman Makam Batu Layang ini.

Jika anda ingin menggunakan angkutan umum, anda bisa menggunakan angkutan darat maupun melalui sungai Kapuas dengan alat transportasi air, karena letak Taman Pemakaman yang berada di tepian sungai Kapuas. Jika anda ingin menikmati perjalanan di atas sungai Kapuas, anda bisa naik perahu berupa sampan dari pelabuhan kota di Pontianak dengan ongkos sebesar Rp 10.000,- saja dan bisa langsung mengantar anda ke area Taman Pemakaman Batu Layang. 

Tapi, jika anda ingin menggunakan kendaraan darat, anda bisa naik angkot dengan jurusan atau rute Sungai Raya yang berwarna kuning. Ketika anda naik angkot ini, anda harus berhenti di sepanjang Jalan Imam Bonjol atau awal-awal memasuki Jalan Adi Sucipto, karena anda harus menyambung angkutan umum berupa bis jurusan BLKI yang akan datang dari arah Jalan Abdurrahman Saleh. 

Ketika anda memasuki Jalan Pontianak-Mempawai lihat sisi kiri jalan untuk melihat tulisan petunjuk area Taman Makam Batu Layang, berhenti di tempat itu dan anda bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ongkos angkot dan bis adalah Rp 2.500,- jadi walaupun agak repot tetapi ongkos yang anda keluarkan lebih hemat yakni dengan ongkos total Rp 5.000,-. Selanjutnya terserah anda untuk menentukan alat transportasi yang anda inginkan.

Wisata

Ketika anda tiba di Taman Makam Batu Layang, suasana warna kuning dan emas sangat mendominasi, baik dari gerbang masuk, pagar pendopo, dinding bangunan, bahkan warna pemakamannyapun identik dengan warna kuning dan emas. Hal ini tak lain karena warna kuning dan emas merupakan ciri khas dari warna kebudayaan melayu yang memang menjadi karakteristik kesultanan Kadriah. 

Selain bernuansa Melayu, Taman Pemakaman ini juga memiliki nuansa Islami yang kental karena, bisa dilihat dari ukiran-ukiran kayu yang tampak di nisan maupun di makam yang ada di Taman Makam Batu Layang. Ukiran-ukiran tersebut bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini cukup membuktikan bahwa, pada masanya Kesultanan Kadriyah memiliki percampuran antara budaya Melayu dan Islam atau dengan kata lain budaya arab.

Ketika kita memasuki area pemakaman, kita diharuskan melepas alas kaki, karena Taman pemakaman ini merupakan tempat yang sangat dijaga kebersihannya. Selain itu, untuk memasuki Taman Pemakaman Batu Layang, anda tidak perlu merogoh saku anda, karena tidak dipungutnya biaya masuk. Sehingga cukup menghemat biaya wisata anda. Keunikan lain dari pemakaman ini adalah, ada beberapa makam yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa.

Dalam Taman Makam Batu Layang ini, ada tujuh buah makam sultan, selebihnya merupakan makam dari keluarga sultan seperti Permaisuri dan keluarga Sultan lainnya. Ketujuh Sultan yang dimakamkan disini berdasarkan urutan dari sultan pertama hingga ketujuh adalah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadri selaku pendiri Kesultanan Kadriah, Sultan Sayid Kasim Al-Kadri, Sultan Syarif Oesman Al-Kadri, Sultan Syarif Hamid I, Sultan Syarif Yusuf Al-Kadri, Sultan Syarif Muhammad Al-Kadri dan terakhir Sultan Syarif Hamid II.

Di antara makam-makam yang ada di sini, makam Sultan Syarif Abdurahman Al-Kadri lah yang menjadi pusat pemakaman ini, karena dibuatkan tempat atau ruangan khusus di tengah-tengah bangunan komplek pemakaman. Ruangan tersebut agak mirip seperti bungker dan ketika kita akan memasuki ruangan ini, jarak dinding langit-langit cukup rendah sehingga sewaktu memasuki ruangan ini kita harus membungkuk. 
Hal ini bukan tidak ada maknanya, ketika kita membungkuk melambangkan rasa hormat pada Sultan yang menjadi pendiri dari Kesultanan Kadriah Pontianak. Ada sebuah cerita yang berkembang di masyarakat sekitar, jika kita berfoto di dekat makam Sultan, terkadang jika anda beruntung, di foto itu muncul sosok sang Sultan.
Alasan dari area pemakaman ini dinamakan batu layang adalah, adanya gundukan batu-batu besar di luar area pemakaman. Batu-batu ini dicat dengan warna hijau, konon ceritanya, batu ini dulunya berada di seberang pulau, tetapi berpindah dengan sendirinya ketempat yang sekarang, maka dari itu dinamai Batu Layang. Di dekat gundukkan batu ini, anda bisa melihat benda yang di cat dengan warna kuning yang merupakan sebuah meriam. 
Banyak penduduk atau wisatawan lokal yang datang mengunjungi Taman Pemakaman Batu Layang ini untuk berziarah dan mendoakan para Sultan dan keluarga. Selain berdoa di area pemakaman, ada juga yang berdoa sembari beribadah di Surau yang ada di dekat area pemakaman.
Tips

1. Jika anda tergolong penakut, sebaiknya jangan berfoto di dekat batu layang, atau tak perlu tau mitos yang berkembang. Karena, di sekitar sini sering ada cerita mistik, terutama di sekitar Batu Layang.

2. Sebaiknya gunakan angkutan air berupa sampan jika anda tidak ingin repot, karena anda tidak perlu berjalan untuk menuju area Taman Pemakaman.
3. Bagi anda yang muslim, cukup mendoakan saja. Jangan sampai mengikuti perbuatan musyrik jika anda melihat beberapa orang yang berlaki demikian.
4. Datanglah pada hari-hari besar Islam, karena pada saat itu biasanya Makam Batu Layang, ramai dikunjungi.
Bagi anda pecinta sejarah dan kebudayaan, terutama kerajaan-kerajaan melayu, Taman Makam Batu Layang ini bisa menjadi sumber pengetahuan anda. Karena, jika anda memang ingin berniat mengetahui cerita tentang Sultan, anda bisa bertanya pada juru kunci makam. 
Jadi, anda bisa menelusuri kisahnya serta mendapatkan pengalaman baru. Selain itu, anda bisa menikmati keindahan sungai Kapuas karena letak Taman Pemakaman yang ada di tepian sungai Kapuas dan selamat berwisata ke tempat yang menjadi cikal bakal kota Pontianak ini.

sumber NN. 2014. Taman Makam Batu Layang. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/taman-makam-batu-layang/. Diakses : 20 Juni 2015.

Hutan Kota (Arboretum Sylva Untan)

hutan_ku
Hutan Kota
Hutan Kota (Arboretum Sylva Untan) merupakan kebun koleksi tanaman dan pepohonan khusus Kalimantan Barat sebagai tempat keanekaragaman hayati, pengembangan pendidikan, pengembangan hutan kota, serta sarana rekreasi dan hiburan masyarakat. Arboretum merupakan kabun koleksi tanaman dan pepohonan khusus Kalimantan Barat sebagai tempat pelestarian keanekaragaman hayati, pengembangan pendidikan, pegembangan hutan kota serta sarana rekreasi dan hiburan masyarakat.

Arboretum sylva untan merupakan kawasan pelestarian plasma nutfah Kalimantan Barat. Maksud pengelolaan arboretum ini adalah untuk pengoleksian, perlindungan dan pelestarian flora dan fauna Kalimantan Barat. Sedangkan tujuannya adalah sebagai tempat pengembangan keanekaragaman hayati, tempat pengembangan pendidikan, pengembangan hutan kota serta sarana rekreasi dan hiburan bagi masyarakat. Memang, sebelum dikelola secara baik kawasan arboretum merupakan areal percontohaan antara Departemen Perindustrian Dan Pertanian yang ditanami ubi dan jagung. Karena kurangnya pengelolaan terhadap kawasan tersebut, tanaman ubi dan jagung terbengkalai dan akhirnya ditumbuhi rumput dan alang-alang.

Taman kota dengan luas kawasan sekitar 3,2 hektar ini terletak di kawasan Universitas Tanjungpura, Jalan Jendral Ahmad Yani Pontianak. Memiliki 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu dan tumbuhan bawah, 12 jenis mamalia, 32 jenis bururng, 14 jenis hertofauna dan 35 jenis serangga. Suasana sejuk begitu terasa saat memasuki hutan mini di Kawasan Arboretum Sylva Untan. Pepohonan yang berderet di pinggir itu menyambut siapa saja yang singgah di kawasan tersebut. Dari jalan Ahmad Yani, kesejukan bahkan bisa dirasakan saat menunggu lampu traffic light.

Kawasan hutan kota ini juga dapat dipergunakan sebagai tempat kejadian photography dan flim, jogging dan cycling, ekowisata dan outbound. Sylva Untan kini tengah mengusahakan agar arboretum bisa lebih dikenal di dunia internasional. Mereka saat ini sedang membangun jaringan dengan lembaga-lembaga lingkungan di luar negeri untuk memperkenalkan arboretum. Sejumlah persiapan juga dilakukan. Misalnya pendataan secara lebih detail flora dan fauna yang ada di Arboretum. Selain itu juga penambahan fasilitas di kawasan ini, seperti pembangunan meeting room, rail untuk keliling kawasan, dan juga home stay.

Namun salah satu kendala untuk mewujudkannya adalah masalah pendanaan. Aktivis Sylva Untan Marcel Gerensa mengatakan, pihaknya kini tengah berupaya menggalang dana agar berbagai kebutuhan untuk mengenalkan kawasan arboretum ke dunia internasional bisa terwujud.


sumber NN. 2015.Hutan Kota (Arboretum Sylva Untan). (Online) http://wisatapontianak.com/hutan-kota-arboretum-sylva-untan/. Diakses : 20 Juni 2015.

Taman Alun-Alun Kapuas

Taman Alun-Alun Kapuas
Taman Alun–Alun Kapuas – Objek wisata yang satu ini menjadi salah satu tempat andalan di Provinsi Kalimantan Barat, hal ini di karenakan Taman Alun-Alun Kapuas ini merupakan tempat yang paling sering di kunjungi oleh masyarakat kota Pontianak. Kapuas, tentunya sudah tidak asing lagi mendengar nama ini bukan? Ya, karena Kapuas itu sendiri adalah nama sebuah sungai, Sungai besar yang membelah kota Pontianak menjadi Pontianak Utara dan Pontianak Selatan, dan merupakan sungai terpanjang di Indonesia.

Lokasi dan Akomodasi 

Taman yang merupakan salah satu proyek ‘Waterfront City’ dari Pemerintah Kota Pontianak, dan sering disebut dengan nama Taman Alun-alun Kapuas itu sendiri terletak di Pinggiran Sungai Kapuas, Pontianak, tepatnya berada di depan kantor walikota Pontianak yakni di sekitaran Jalan Rahadi Usman. Untuk menuju ke lokasi Taman Alun-alun Kapuas ini, anda bisa memilih sendiri ingin menggunakan transportasi apa, hal ini di karenakan Taman Alun-alun Kapuas ini berada di Pusat kota Pontianak sehingga tidak akan sulit untuk menemukannya.

Jika anda memiliki kendaraan pribadi anda bisa menggunakan nya, akan tetapi jika anda memilih menggunakan kendaraan umum, anda tidak perlu khawatir, karena dikota Pontianak ini tersedia Trayek-Trayek angkutan kota yang siap melayani anda untuk menuju ke lokasi Taman Alun-alun Kapuas ini. 

Nah, jika anda menggunakan kendaraan sendiri, akan tetapi Anda bingung untuk menemukan Jalan Rahadi Usman anda bisa bertanya-tanya kepada warga sekitar, tetapi tidak akan sulit jika anda sudah berada di pusat kotanya. 

Namun, jika anda menggunakan kendaraan umum, anda bisa menggunakan angkutan kota (angkot) yang berwarna biru tua dengan rute atau jurusan Penjara-Kapuas, angkot ini berangkat dari terminal Kapuas dan berhenti setelah anda sampai di jalan Rahadi Usman, atau angkot yang berwarna biru juga dengan jurusan Penjara-Gajah mada, akan tetapi pastikanlah kepada sang supir jika angkot tersebut melintasi Jalan Pak Kasih. 

Lalu, setelah sampai di jalan Pak Kasih anda bisa sedikit berjalan ke Jalan Rahadi Usman untuk sampai ke lokasi Taman Alun-alun Kapuas, atau anda bisa menyambung angkot lain yang menuju jalan Rahadi Usman, contohnya angkot jurusan Penjara-Kapuas.

Ada juga beberapa angkot lain yang bisa anda gunakan, contohnya angkot berwarna abu-abu jurusan Pancasila ataupun angkot berwarna hijau muda jurusan Sunga jawi, bila anda sudah sampai di jalan Hasanuddin, anda berhenti dan menyambung angkot biru tua jurusan Pejara-Kapuas. Lalu, jika anda naik angkot berwarna Hijau Tua dengan jurusan kota baru, anda berhenti di jalan Gusti Sulung Lelanang untuk menyambung angkot biru tua rute Penjara Kapuas tadi. Sama hal nya jika anda naik angkot berwarna Merah muda dengan jurusan Ahmad Yani, jika sudah sampai di jalan K.H. Ahmad Dahlan, anda tinggal mencari angkot biru tua dengan jurusan Kapuas. 

Ongkos angkot yang harus anda keluarkan untuk menuju ke lokasi Taman Alun-alun Kapuas ini juga tidak berbeda, semuanya sama, yaitu Rp 2.500,- meskipun harga yang di tetapkan oleh pemerintah Pontianak sebesar Rp 2.000,- akan tetapi tidak ada supir angkot tidak ada yang mau dibayar dengan uang sejumlah demikian. Selain menggunakan kendaraan umum, anda juga bisa menggunakan taksi, untuk harganya tentu saja berdasarkan perhitungan argometer taksi tersebut, dengan seberapa jauh jarak anda dengan lokasi tujuan anda.

Taman Alun-Alun Kapuas

Wisata

Taman Alun-Alun Kapuas ini memiliki bentuk dan dekorasi yang amat tertata rapi, sehingga tempat ini sering menjadi sarana refresing bagi beberapa kalangan masyarakat umum kota Pontianak, apalagi di tambah dengan adanya air mancur yang sangat indah, dengan dikelilingi anak-anak tangga taman alun-alun Kapuas serta ditambah dengan replika Tugu Khatulistiwa yang menjadi kebanggaan masyarakat Provinsi Kalimantan barat ini. 

Taman ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, dan sejak pertama kali di bangun hingga sekarang, Taman Alun-Alun Kapuas ini tetap menjadi ikon dari Kota Pontianak itu sendiri. 

Taman Alun-Alun Kapuas ini telah beberapa kali di renovasi, Pembangunan yang pertama telah dilakukan sekitar tahun 1999-an, lalu renovasi taman yang kedua dilakuan pada tahun 2011, dan pada tahun 2012 inipun Pemerintah kota Pontianak sedang melakukan Proyek renovasi yang ketiga, menurut beliau renovasi kali ini untuk memperluas daerah Taman Alun-Alun Kapuas, menambah beberapa air mancur lagi, serta membangun beberapa sarana dan prasarana untuk para pengunjung, hal ini bertujuan agar taman ini Semakin di kagumi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.

Saat ini luas dari Taman Alun-alun Kapuas, sudah mencapai kurang lebih sekitar tiga hektar, angka tersebut sudah dua kali lipat dari luas Taman sebelumnya yang hanya berkisar kurang lebih 1,5 hektar. Masyarakat kota Pontianak juga berharap agar proyek perluasan dan pembenahan Taman Alun-Alun Kapuas ini bisa selesai di akhir tahun 2012 ini atau pada awal 2013 nanti. Sedangkan lahan yang digunakan untuk meluaskan areal Taman Alun-Alun Kapuas ini adalah lahan bekas Balai Prajurit milik Komando Daerah Militer ( Kodam ) XII Tanjungpura.

Ketika berkunjung ke sini, anda bisa mencoba beberapa kuliner khas Pontianak atau melihat aktifitas di dermaga feri di sungai Kapuas, atau mungkin anda ingin mencoba wisata di atas sungai terpanjang di Indonesia ini. Anda bisa bermain di air mancur yang di miliki taman ini sembari mencelupkan kaki anda ke air untuk merasakan dinginnya air sungai Kapuas.

Air Mancur

Tips
 
1. Manfaatkanlah kursi-kursi taman disana untuk bersantai-santai, jadi anda tidak perlu repot untuk membawa tikar dari rumah jika ingin berpiknik bersama keluarga.

2. Cicipilah beberapa kuliner khas kota Pontianak disekitar Taman Alun-alun Kapuas ini, jangan lewatkan yang satu ini karena belum tentu anda bisa menemukannya di berbagai tempat.

Bagaimana? Tempatnya menarik bukan? Anda tidak akan menyesal jika berkunjung kemari, apalagi ada mitos yang katanya jika anda menucuci muka dengan air Sungai Kapuas, maka suatu saat nanti anda akan kembali lagi ketempat itu, sama seperti legenda air mancur di Barcelona kan, Nah kenapa anda tidak mencoba membuktikan mitos itu sendiri, jadi selamat berlibur ke Pontianak.


sumber NN. 2014. Taman Alun-Alun Kapuas. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/taman-alun-alun-kapuas/. Diakses : 20 Juni 2015.