Masjid Raya Mujahidin

Masjid Raya Mujahidin berdiri megah di pusat Kota Pontianak sejak tahun 1978 ini dan diresmikannya oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo pada hari Selasa, 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H).

Gereja Katedral Santo Yoseph

Gereja Katedral Santo Yoseph yang telah berdiri sejak 9 Desember 1909 merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak.

Rumah Radakng

Rumah Radakng, itulah sebutan yang pantas untuk rumah adat terbesar di Indonesia bahkan di dunia dengan panjang 138 meter dan tinggi 7 meter sekaligus menjadi yang paling megah di Kalimantan, yang terletak di jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak.

Tugu Digulis

Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing menceritakan perjuangan pemuda Kalimantan meraih kemerdekaan RI.

Keraton Kadriyah Pontianak

Kesultanan Kadriyah Pontianak adalah sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Saturday, June 20, 2015

Museum Negeri Pontianak

Museum Negeri Pontianak
Museum Kalimantan Barat – dikenal juga dengan nama Museum Negeri Pontianak karena berlokasi di Kota Pontianak sebagai ibukota dari Kalimantan Barat. Beragam koleksi seputar Kalimantan Barat dari beberapa masa, tersusun dengan baik di museum ini, apa lagi Museum Negeri Pontianak ini menjadi salah satu dari 5 museum terbaik Se-Indonesia.

Lokasi dan Akomodasi

Museum Negeri Pontianak, berlokasi di Jalan Jendral A. Yani, Pontianak. Anda bisa menggunakan beberapa opsi alat transportasi, baik kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. 

Untuk kendaraan pribadi jika dari pusat kota Pontianak, berjalanlah ke arah barat menuju Jalan Merdeka, dari sini belok kiri lalu ke kanan selama melewati Jalan Kiyai Haji Wahid Hasyim. Ikuti jalan lurus selama melewati Jalan Ahmad Dahlan dan Jalan Jendral Ahmad Yani, museum ini ada di sebelah kanan, maka carilah tempat untuk berputar lalu anda akan sampai di Museum Negeri Pontianak.

Lalu, bagaimana jika anda tidak bisa menggunakan kendaraan pribadi? Jangan khawatir, anda bisa menggunakan angkutan kota (angkot) yang berwarna merah muda dengan jurusan Ahmad Yani. Cukup membayar Rp 2.500,- dan anda akan sampai ke museum ini. Untuk angkutan umum lainnya, anda bisa menggunakan taksi ataupun ojek, sebut saja ke museum negeri. Jika anda merasa lapar, di dalam halaman museum ini anda bisa menemukan sebuah rumah makan. Jadi jangan khawatir wisata sejarah anda terganggu dengan perut yang lapar.

Miniatur Museum Negeri Pontianak
Wisata

Sesuai namanya, museum ini menyimpan berbagai benda-benda bernilai historis yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Museum ini dibangun pada tahun 1975 dan berdiri di atas tanah seluas ± 3905 meter persegi, sedangkan luas lahan keseluruhan ± 28.167 meter persegi. Tetapi gedung ini baru difungsikan sebagai museum pada tanggal 4 Oktober 1983 dan baru diresmikan pada tanggal 2 April 1988 setelah dilakukannya penyempurnaan pada bangunan yang berarsitektur perpaduan antara gaya modern dan tradisional ini.

Jika anda ingin mengunjungi museum ini, datanglah pada hari selasa-kamis dari jam 08:00-16:00 atau pada hari jum’at-minggu dari jam 08:00-15:00. Untuk hari senin dan hari libur nasional lainnya, museum tidak beroperasi.

Museum Negeri Pontianak ini memiliki koleksi sekitar 5027 buah, di antaranya menyimpan beberapa koleksi berupa Etnografika, Historika,Teknologika, Filologika, Prasejarah, Keramologika dan beberapa miniatur yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Kalimantan Barat. 

Untuk ruang pameran museum, ada tiga kategori ruangan. Yang pertama adalah ruangan pengenalan dimana menyimpan beberapa koleksi yang berbau geologi, hasil tambang dan artefak-artefak sejarah yang ada di Kalimantan Barat. Artefak tersebut kebanyakan berupa foto-foto. Nuansa historika juga hadir di ruangan ini dengan adanya pakaian-pakaian para raja dan bangsawan di masa kesultanan.

Sedangkan untuk ruang pameran yang kedua, menyimpan koleksi yang bernuansa etnografi. Tentu saja berkaitan dengan budaya tradisional Kalimantan Barat seperti etnografi suku Dayak dan kesenian tradisional pastinya. Tak hanya itu, peralatan rumah tangga tradisional yang berasal dari peradaban melayu pun tersimpan di ruangan ini.

Untuk ruangan pameran ketiga, menyimpan beragam koleksi berupa barang-barang keramik yang cukup terkenal di Kalimantan Barat. Keramik-keramik tersebut ada yang berasal dari penduduk lokal, ada juga yang berasal dari China dan Thailand.

Tak hanya ruangan pameran tetap tersebut yang ada di museum ini. Anda juga bisa menemukan ruang pameran temporer dan auditorium. Selain ruangan-ruangn itu, bagi anda yang ingin lebih mendalami sisi historis Kalimantan Barat, museum ini memiliki fasilitas yang tak kalah pentingnya dengan ruangan lain, yakni ruangan storage dan perpustakaan. Jadi, wisata sejarah anda tak sekedar melihat, tetapi anda juga bisa memahami benda-benda yang menjadi koleksi di museum ini.

Kelengkapan museum ini tidak sampai situ saja, taman yang ada di museum ini, sangat mempercantik suasana bangunan museum. Dengan dibuatnya parit-parit kecil serta jembatan kecil yang ikut melengkapi, tak jarang museum ini menjadi objek pengambilan foto bagi para penggemar fotografi, dan yang lebih fantastis lagi, taman ini memiliki beberapa minatur-miniatur yang erat dengan budaya dan sejarah. 

Misalnya Rumah Lanting yang menjadi rumah tradisional masyarakat Kalimantan barat, Miniatur Sandung dan Langun yang menjadi bangunan penting dalam prosesi kematian di suku Dayak, serta miniatur lain yang digunakan masyarakat tradisional seperti Dango, Langkau dan Pancar. Sedangkan miniatur yang berhubungan dengan industri tradisional masyarakat di antaranya adalah tungku pembakaran keramik dan alat press karet.

Miniatur yang ada di taman ini pun dilengkapi dengan adanya replika batu bertulis, atau lebih akrab disebut dengan prasasti. Di batu ini, terukir gambar berupa tanaman dan pedang. Ada juga ukiran-ukiran huruf pallawa yang berisi ajaran budha. Untuk benda aslinya, ada di desa Pait, kecamatan Nanga Mahap. Batu berukir ini diperkirakan merupakan benda peninggalan dari kerajaan Mulawarman.

Tips

1. Siapkan catatan agar kunjungan anda tak semata-mata melihat, tetapi juga memahami

2. Jangan ragu untuk bertanya pada petugas jika ada beberapa hal yang ingin anda pahami dari koleksi museum tersebut

3. Datanglah agak pagi agar anda leluasa untuk bertanya, karena belum banyak pengunjung yang datang

Kapan lagi mencoba salah satu museum terbaik di Indonesia ini? Jadi sempatkan waktu anda untuk melihat sisi historis provinsi Kalimantan Barat ini dengan mengunjungi Museum Negeri Pontianak, tak hanya wisata sejarah yang anda dapatkan, dengan fasilitas taman yang indah, anda juga bisa bersantai di halaman museum ini. Jadi, jangan ragu untuk datang ke Museum Negeri Pontianak untuk melengkapi liburan anda.

sumber NN. 2014. Museum Kalimantan Barat. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/museum-kalimantan-barat/. Diakses : 20 Juni 2015.

Rumah Melayu Kalimantan Barat



Rumah Adat Melayu Kalimantan Barat (Kalbar) ini terletak Komplek Perkampungan Budaya, Jalan Sutan Syahrir Kota Pontianak. Secara historis, pembangunan Rumah Adat Melayu ini dimulai dengan penancapan tiang pertama pada tanggal 17 Mei 2003 hingga selesai dibangun pada tahun 2005. Selanjutnya, pada tanggal 9 November 2005 Rumah Adat Melayu Kalbar diresmikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Sejak diresmikan, bangunan berdiri diatas lahan seluas 1,4 Hektar ini menjadi pusat/tempat diselenggarakannya berbagai kegiatan, resepsi pernikahan maupun salah satu destinasi kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Hakikat rumah/ruang balai adalah tempat melakukan kegiatan bermasyarakat dan kegiatan sosial, termasuk tempat mengadakan musyawarah dan sebagainya. Ungkapan diatas memberi petunjuk, bahwa rumah/ruang balai melambangkan falsafah hidup gotong royong, senasib sepenanggungan dan kesetiakawanan sosial pada masyarakat Melayu, "Adat dijunjung, budaya disanjung". Rumah Adat Melayu juga berfungsi sebagai tempat musyawarah Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) yang berperan dalam menyelenggarakan berbagi event budaya Melayu di Kalbar, satu diantaranya adalah Festival Seni Budaya Melayu.


Seni arsitektur dan tipologi rumah tradisional Melayu adalah rumah panggung atau berkolong, dan memiliki tiang-tiang tinggi. Hal ini sesuai dengan iklim setempat serta kebiasaan yang sudah turun menurun. Tinggi tiang penyangga rumah sekitar dua sampai dengan dua setengah meter. Suasana didalam ruangan sejuk dan segar karena banyak memiliki jendela serta lubang angin (ventilasi). Berdasarkan bentuk atapnya, Rumah Adat Melayu Kalbar memiliki bentuk atap lipat kajang (rumah dengan atap curam) yang berbentuk segitiga dengan tinggi kira-kira 30 derajat, memiliki fungsi untuk menyaring udara panas agar tidak terperangkap di dalam ruangan rumah tersebut. Posisi bangunan ini tegak lurus menghadap jalan raya yang disebut dengan Rumah Perabung Melintang.Selain itu di bagian bawah terdapat kolong yang cukup tinggi. Khusus untuk ornamen bangunan ini merupakan perpaduan dari ornamen-ornamen dari keraton-keraton yang ada di Kalimantan Barat. Keindahan kawasan Rumah Adat Melayu semakin elok dengan adanya taman yang dihiasi dengan bunga yang tertata rapi. Tak sebatas itu saja, bangunan ini dihiasi dengan adanya air mancur yang indah dan bersih. 


Must To Do

Selain eksotisme arsitektur dan ornamen khas Rumah Adat Melayu Kalbar yang menarik untuk diabadikan, pesona kuliner khas Melayu juga dapat dinikmati pengunjung di kawasan ini. Di bagian bawah bangunan ini, tersedia Restoran yang menyediakan menu kuliner Khas Melayu Pontianak. Sesuai dengan konsepnya, resto ini juga didekorasi sedemikian rupa sehingga corak melayu tampak begitu kental. Kurang lebih 50 jenis masakan tersedia di resto ini. Menu spesialnya ada ikan asam pedas, ikan bakar, boto ikan tenggiri, pepes ikan kemangi. Sedangkan khas nusantara ada cah pakis, ayam bakar pandan, opor ayam kampung dan sambal petai ikan asin. Selain itu juga ada umbut kelapa, rebung, botok, lecak, pajri nanas. Cencalok, tempoyak, satur keladi, sayur asam. Kalau untuk minuman juga tersedia air rujak, air serbat dan jika dicampurkan dengan susu akan berubah sebutannya menjadi jadi strup. Hidangan resto ini memang dikenal dengan masakan khas melayu dan nusantara sejak 20 tahun yang lalu.Setiap harinya, menu makanan divariasikan agar fleksibel namun tetap memberikan sensasi khas Melayu Pontianak. Just try the typical cuisine of Malay Pontianak!


sumber Pontinesia. 2015. Rumah Melayu. (Online) http://pontinesia.com/index.php?destinasi&id=melayu. Diakses : 20 Juni 2015.

Rumah Radakng Kalimantan Barat

Rumah Radakng, itulah sebutan yang pantas untuk rumah adat terbesar di Indonesia bahkan di dunia dengan panjang 138 meter dan tinggi 7 meter sekaligus menjadi yang paling megah di Kalimantan, yang terletak di jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak.

Rumah Radakng (Radakng merupakan bahasa Dayak Kanayatn dalam Bahasa Indonesia berarti, rumah betang atau rumah panjang) merupakan simbol semangat kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong dan kebersamaan masyarakat Dayak. Rumah Radakng Kalimantan Barat yang terletak di Komplek Perkampungan Budaya Jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak ini sudah diresmikan oleh Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH Selasa (02/07/13) lalu. Peresmian ini sebagai bentuk penyampaian informasi kepada khalayak ramai bahwa bangunan ini sudah bisa digunakan. Rumah Radakng ini dibangun sebagai upaya pengembangan dan pelestarian adat istiadat. Karena rumah panjang punya nilai strategis.


Rumah Radakng didesain untuk menampung sekitar 600 orang di ruang utama.Sementara itu,area halaman yang luas juga dapat digunakan untuk aktivitas budaya.Bangunan ini memiliki dua tangga utama yang terbuat dari kayu berukuran sangat besar dan panjang.Siapa saja yang melintasi kawasan ini akan terkesan dan terpesona dengan arsitektur Rumah Radakng nan indah dan megah. Visit this place and feel its luxury!


sumber Pontinesia. 2015. Rumah Radakng. (Online) http://pontinesia.com/index.php?destinasi&id=radakng/. Diakses : 20 Juni 2015.

Tugu Digulis

Pontianak identik dengan Tugu Khatulistiwa. Padahal, kota ini punya monumen yang tak kalah bersejarah. Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing menceritakan perjuangan pemuda Kalimantan meraih kemerdekaan RI. Tak jarang traveler melewatkan Tugu Digulis saat berkunjung ke Pontianak, Kalimantan Barat. Satu-satunya monumen yang paling diingat pasti Tugu Khatulistiwa, bukan Tugu Digulis yang jelas-jelas terletak di tengah kota. Padahal, tugu ini juga punya sejarah terkait perjuangan pemuda Kalimantan Barat dalam meraih kemerdekaan.

Monumen ini berbentuk 11 bambu runcing yang menjulang tinggi ke angkasa, masing-masing berbeda ukuran. Warnanya kuning kehijauan layaknya bambu pada umumnya. Monumen ini diresmikan pada 10 November 1987 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu, H Soedjiman.

Ada kisah kelam di balik berdirinya monumen ini. Semua berawal pada 1914, saat terbentuknya Partai Sarekat Islam (SI) di Ngabang (sekarang Kota Landak). Organisasi berbasis keagamaan ini mendapat banyak simpati dari masyarakat, hingga akhirnya pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah untuk membekukan seluruh kegiatan Sarekat Islam.

Perintah itu digelontorkan akibat maraknya pemberontakan anggota SI di Jawa dan Sumatera. Pemerintah Hindia Belanda pun menangkap 11 tokoh pergerakan Kalimantan Barat. Tiga dari 11 tokoh itu meninggal saat diasingkan ke Boven Digoel di Irian Barat, sementara 5 di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor di Kabupaten Landak.


 
11 Bambu runcing di Tugu Digulis itu masing-masing melambangkan tokoh pejuang. Mereka adalah Achmad Marzuki, Achmad Su'ud bin Bilal Achmad, Gusti Djohan Idrus, Gusti Hamzah, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Soeloeng Lelanang, Jeranding Sari Sawang Amasundin, Hj Rais bin H Abdurahman, Moehammad Hambal alias Bung Tambal, Moehammad Sohor dan Ya' Moehammad Sabran.Nama-nama mereka sekarang diabadikan menjadi nama jalan-jalan di Pontianak. Meski Tugu Digulis berada di tengah bundaran, wisatawan bisa meminggirkan mobil untuk melihat dan mengabadikannya dalam kamera.

sumber Pontinesia. 2015. Tugu Digulis. (Online) http://pontinesia.com/index.php?destinasi&id=digulis/. Diakses : 20 Juni 2015.

Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh garis imajiner Khatulistiwa sehingga untuk menandainya, dibangunlah sebuah tugu yang diberi nama Tugu Khatulistiwa (Equator Monument). Tugu Khatulistiwa berlokasi tepat di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Siantan, Kecamatan Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat dan berada sekitar 5 Km dari pusat Kota Pontianak. Monumen ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan seringkali dikunjungi masyarakat maupun wisatawan,baik dari dalam maupun luar negeri. Bagi para wisatawan yang telah berkunjung akan disediakan Piagam Perlintasan Khatulistiwa (Certificate of Equator Crossing) sebagai tanda telah melintasi Khatulistiwa di Kota Pontianak diatas garis 109 derajat 20'00" Bujur Timur



Secara historis, Tugu pertama dibangun pada tahun 1928 bersamaan dengan sebuah ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan garis imajiner Khatulistiwa. Saat itu, bangunannya masih sederhana, yakni berbentuk tonggak dengan anak panah.Tahun 1930, Tugu disempurnakan dengan menambahkan lingkaran pada anak panah. Penyempurnaan selanjutnya dilakukan pada tahun 1938 oleh arsitek Silaban. Baru pada tahun 1990, dengan niat untuk melindungi tugunya yang asli, Pemerintah Daerah Kota Pontianak berinisiatif membangun sebuah kubah. Kemudian, di atas kubah tersebut dibuat duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari ukuran tugu yang aslinya. Tugu asli saat ini dapat dilihat pada ruang bagian dalamnya (kubah. Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.

Kawasan Tugu Khatulistiwa diresmikan pada tanggal 21 September 1991. Selanjutnya, pada bulan Maret tahun 2005, sebuah tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengkoreksi lokasi titik nol garis Khatulistiwa. Setelah melalui serangkaian pengkajian yang mendalam, tim dari BPPT menyimpulkan bahwa posisi 0 derajat, 0 menit, dan 0 detiknya ternyata berada sekitar 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari lokasi tugu yang sekarang ini.


What To Do & See

Garis khatulistiwa yang melewati Kota Pontianak merupakan satu-satunya garis Khatulistiwa di dunia yang persis membelah bumi secara horizontal menjadi belahan utara dan belahan selatan. Maka, berdiri di titik lintang nol derajat yang terdapat di tugu tersebut tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi para pengunjung. Uniknya, bangunan tugu ini terbuat dari kayu belian, bukan dari semen, sebagaimana bangunan tugu atau monumen pada umumnya. Pengunjung diperbolehkan melihat bangunan tugu asli, melihat dokumentasi sejarah pembangunan tugu dari awal berdirinya hingga sekarang ini, sehingga pengunjung dapat memperoleh pengetahuan dasar tentang ilmu bumi dan astronomi. Di kawasan Tugu Khatulistiwa juga tersedia toko souvenir, areal parkir yang luas dan aman serta pesona pemandangan Sungai Kapuas yang eksotik.

Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis Khatulistiwayang bersiklus dua kali setahun. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan Tugu Khatulistiwa akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.Siklus yang terjadi pada tanggal 21-23 Maret dinamakan vernal equinox (titik pertemuan pertama) sebagai tanda awal musim semi, sedangkan siklus yang terjadi pada tanggal 21-23 September dinamakan autumnal equinox (titik pertemuan kedua) sebagai tanda awal musim gugur.

Meski hanya sekitar 5-10 menit, melihat langsung benda-benda yang berada di sekitar tugu tersebut tidak memiliki bayangan, tentu saja menimbulkan sensasi tersendiri yang sulit untuk dilukiskan bentuknya. Untuk merayakan dua momen tersebut, biasanya di kawasan tugu digelar Festival Kulminasi Matahari yang mencakup berbagai kegiatan, seperti atraksi kesenian tradisional daerah, pameran lukisan, kerajinan khas, kuliner dan lain sebagainya. Melalui event tahunan khas Kota Pontianak ini, tentu saja dapat menarik kedatangan wisatawan untuk merasakan sensasi berdiri tanpa bayangan dibawah terik matahari. Let's go ahead to Pontianak!


sumber Pontinesia. 2015. Tugu Khatulistiwa. (Online) http://pontinesia.com/index.php?destinasi&id=tugu. Diakses : 20 Juni 2015.

Pura Giri Pati Mulawarman

Pura Giri Pati Mulawarman
Pura Giri Pati Mulawarman berada Jalan Adi Sucipto No. 12, Kabupaten Kubu Raya Pontianak Kalimantan Barat.  Pujawalinya bertepatan dengan Hari Raya Galungan, Budha Kliwon Dunggulan.

Keberadaan Umat Hindu di Kalimantan Barat sudah ada sejak dahulu namun jumlah umat Hindu di Kalimantan Barat ini tidak sebanyak umat Hindu di pulau Bali, namun umat Hindu disini berasal dari berbagai suku seperti Jawa dan penduduk asal seperti suku dayak dan lain-lain.

Pura sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Pontianak ini baik kegiatan persembahyangan Purnama - Tilem, rerahinan , maupun hari Raya besar seperti Hari Raya Nyepi, Hari Raya Galungan dan Kuningan, Siwaratri, Saraswati, Pagerwesi. Umat selalu antusias dalam setiap kegiatan ini, karena inilah waktu yang tepat untuk dapat berkumpul, mesima krama menyama braya di tanah rantau Kalimantan.


Demikian juga kegiatan suka-duka mebanjar tetap dilaksanakan di lingkungan Pura Giri Pati Mulawarman ini, kegiatan kepemudaannya tidaklah kalah penting dalam selalu menjaga Budaya dan Agama Hindu dimanapun berada, seperti dalam perayaan Nyepi dengan pembuatan Ogoh-ogoh.


Peranan Parisada dalam menjaga, membina, dan merangkul setiap umat Hindu agar senantiasa bersatu dalam Dharma, dan mampu memberi sumbangan kepada daerah setempat, melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.


PURA DI PONTIANAK KALIMANTAN BARAT :

Pura Giripati Mulawarman - Alamat : Jl. Adisucipto No. 12 Ptk
Pura Giri Kertha Bhuana  - Alamat : Ds.Kalimas Sui Kakap
Pura Giri Araertha Jaya - Alamat: Ds. Rasau Jaya
Pura Prajapati - Alamat : Jl. Adisucipto Ptk
Kabupaten Bengkayang
Pura Giri Penyanggar Anantasana -  Alamat : Desa Cipta Karya
Pura Giri Purwa Dharma  - Alamat : Desa Kamuh, Sanggoledo
Kabupaten Sambas
Pura Giri Dharma Kerthi -  Alamat : Desa Spandak, Sambas
Pura Giri Mandara Jati - Alamat : Desa Keraban, Sambas
Kabupaten Ketapang
Pura Giri Amertha Bhuwana - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dalem - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura UlunSuwi  - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dadia - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Giri Komala Kencana - Alamat : Desa Kendawangan
Kabupaten Sintang
Pura Giri Penataran Agung - Alamat : DesaTinom Baru
Pura GiriLuhur  - Alamat : Desa Londang
Pura Giri Yoga Sakti - Alamat :Desa Senibung
Kabupaten Sanggau
Pura Giri Dewata Mandala - Alamat : Ds Kuala Buayan, Meliau
Pura Giri Dewata Saraga - Alamat : Ds. Mpaung Meliau


sumber Semangat Hindu. 2013. Pura Giri Pati Mulawarman. (Online) http://semangathindu.blogspot.com/2013/07/pura-giri-pati-mulawarman-pontianak.html./ Diakses : 20 Juni 2015.

Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak

Dahulu lebih dikenal dengan sebutan kelenteng tiga atau Thian Hou Keng. Menurut beberapa sumber, bangunan kelenteng tua ini di bangun pada zaman Dinasti Kang Hie ( 1645 – 1772 ).

Vihara bodhosatva karaniya metta
Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak

Vihara ini terletak di Jalan Sultan Muhammad Kampung Darat Sekip, Kelurahan Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Letak klenteng persis di ujung pertemuan ruas jalan Sultan Muhammad dan jalan Gusti Ngurah Rai, Pontianak, tak jauh dari komplek pertokoan Kapuas Indah.

Di atas gapura masuk vihara terdapat keterangan yang menunjukkan tahun 1829 M sebagai periode vihara ini. Warna merah mendominasi hampir di sebagian besar bangunan yang dahulu lebih di kenal dengan sebutan kelenteng tiga atau Thian Hou Keng . Tiang dan rangka bangunannya terbuat dari kayu ulin yang di beri warna merah dan kuning emas. Di tiga pintu utama terlukis gambar dewa-dewa Khong Hu Chu. Dinding dan altar terdapat patung dan lukisan yang bermakna tentang filosofi ajaran kehidupan.

Sejarah menceritakan bahwa pada tahun 1979 Patung Macou atau Patung Dewi Samudra telah dibawa oleh seseorang yang bermarga Kim yang berasal dari Cina. Pada saat yang sama juga didirikan kelenteng Macau atau kelenteng Dewi Samudra yang berada di Jalan Thang Seng Hie atau yang dikenal dengan sebutan Jalan Kapuas Besar ( yang dimana sekarang lebih dikenal dengan Jalan Sutan Muhammad ).

Tiang dan rangka bangunannya terbuat dari kayu ulin yang didominasi warna merah dan kuning emas. Di tiga pintu utama terlukis gambar Dewa – dewa Kong Hu Chu. Dan dinding dan altar yang terdapat patung dan lukisan yang bermakna tentang filosofi ajaran kehidupan.

vihara
Vihara tampak dari depan
Dalam Perkembangan sejarahnya kelenteng ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran sampai seperti keadaan yang seperti sekarang ini. Kelenteng ini sering ramai dikunjungi setiap tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan imlek. Mereka yang datang tidak hanya dari seputar Pontianak namun mereka juga datang dari luar kota.

Sementara itu, di bagian luar vihara, sejauh mata memandang, kawasan di luar vihara merupakan pelataran yang berfungsi sebagai “terminal” dan area bongkar muat kendaraan bis dan kapal motor yang melayani rute dari Pontianak menuju daerah perhuluan Kalimantan Barat. Nampak sejumlah truk dan bis diparkir di area terminal, sementara beberapa kapal motor sedang melakukan aktivitas bongkar muat di tepian Sungai Kapuas, persis bersebelahan dengan area terminal.

sumber NN. 2015. Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak. (Online) http://wisatapontianak.com/vihara-bodhissatva-karaniya-metta-pontianak/. Diakses : 20 Juni 2015.

Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak

Gereja Katedral Santo Yoseph yang telah berdiri sejak 9 Desember 1909 merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak. Tidak bisa dipungkiri, bangunan gereja yang sudah berumur lebih dari 100 tahun ini sudah tidak lagi cukup untuk menampung jumlah umat Katolik yang semakin bertambah di Pontianak. Hal ini terlihat jelas pada setiap misa hari Minggu yang walaupun sudah dilakukan sebanyak 4 kali, sejumlah umat yang hadir tidak tertampung lagi dan harus rela berdiri untuk dapat mengikuti misa.


Menanggapi kondisi tersebut maka diputuskan untuk membangun kembali gereja ini agar di masa yang akan datang dapat menampung lebih banyak umat. Bukan sekedar pemugaran, pihak pengurus gereja berencana mengganti dengan bangunan yang benar-benar dengan pertimbangan bahwa gereja ini telah dipugar selama 3 kali sejak berdiri dan terakhir adalah 49 tahun yang lalu tidak membuahkan hasil yang berarti. Dinding kayu yang sudah tua dan lapuk merupakan salah satu pertimbangan untuk dilakukan pembangunan ulang.Akhirnya pada tahun 2011, bangunan gereja mulai dirobohkan.Ketua pembangunan gereja, Ny. Federika Cornelis mengaku pada awalnya panitia mengalami kesulitan mendapatkan dana untuk membangun gereja. Namun seiring berjalannya waktu dan tak lepas dari karunia Tuhan, sumbangan pun semakin banyak mengalir dari berbagai pihak.


Bangunan gereja dirancang oleh arsitek asli dari Kalimantan Barat didampingi Tim Asistensi Pembangunan Gereja. Model gereja mengacu arsitektur klasik "Corinten" yang terlihat dari kubah bulat sebagai kubah utama dan diatasnya ada kubah kecil lagi yang disebut "Rotunda". Konstuksi kubah utama menggunakan space frame atau rangka ruang merupakan konstruksi yang terbilang canggih di Kalimantan Barat dan pertama kali digunakan untuk bangunan gereja. Bangunan yang mengambil gaya gothic dan berpatokan pada patron zaman Bizantium pada abad ke-4 diharapkan bisa sedikit menyerupai kemegahan Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan dan dapat menjadi kebanggaan masyarakat Pontianak terutama kalangan gereja.


Pembangunan gereja telah memasuki tahap akhir dan telah diresmikan pada tanggal 19 Desember 2014 oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH. Gedung Gereja Katedral yang baru memiliki dua lantai yang dipakai untuk misa dan dapat menampung sekitar 3000 umat. Ada basement yang berfungsi sebagai tempat parkir, Plaza Maria, ruang adorasi, dan ruang abu yang dilengkapi dengan AC central dan lift. Memasuki gereja, gaya klasik Eropa langsung terasa. Cahaya menyembul dari kaca-kaca besar berwarna warni dengan hiasan gambar-gambar religius seperti pada gereja di Eropa. Ornamen bernuansa Dayak tampak dominan dan ukiran khas Dayak mengelilingi dinding gedung. Uniknya, tidak semua barang di dalam gereja adalah baru, Altar dan pintu utama gereja menggunakan kayu berlian yang diambil dari pilar gereja Katedral lama untuk mengenang bangunan gereja sebelumnya.Ada juga patung burung ruai dari kayu berlian di halaman gereja. Di pelataran juga berdiri patung Santo Yosef berukuran raksasa.

Pencapaian pembangunan gereja wajib disyukuri bersama dan merupakan upaya untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada umat agar dapat lebih nyaman berbakti dan memuliakan nama Tuhan. Gereja adalah tempat ibadah dan sebagai sarana untuk mendalami agama harus dapat dipergunakan sebaik-baiknya dan diharapkan secara langsung dapat memberikan pengaruh positif kepada masyarakat serta berpartisipasi bersama umat lain dalam mewujudkan suasana yang aman, tenteram, damai dan sejahtera, baik secara internal, dengan gereja maupun umat lain. Pemberkatan meriah akan dilaksanakan pada tanggal 19 maret 2015 yang bertepat dengan Hari Raya Santo Yoseph.

Jadwal misa di gereja Katedral:
- Misa harian : 05.30 WIB
- Jumat pertama : 17.30 WIB
- Minggu : 06.00, 08.30, 16.30, 19.00 WIB


Photos by:
Silverius Irwan, Danniel Parogi Tambunan


sumber Silverius Irwan. 2015. Gereja Katedral Santo Yoseph. (Online) hhttp://pontinesia.com/berita/gereja-katedral-santo-yoseph. Diakses : 20 Juni 2015.

Masjid Raya Mujahidin Jadi Landmark Islami Kota Pontianak

Masjid Raya Mujahidin, yang berdiri megah di pusat Kota Pontianak sejak tahun 1978 ini, telah memasuki tahap akhir renovasi pembangunannya. Hal ini ditandai dengan diresmikannya Masjid terbesar di Kalimantan Barat tersebut oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo pada hari Selasa, 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H). 

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti. Dalam acara tersebut, Presiden yang didampingi Ibu Negara melakukan peninjauan kesejumlah bagian Masjid Raya Mujahidin. Ikut hadir dalam peresmian tersebut, antara lain: Sekretaris Kabinet (Andi Wijayanto), Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Umum Pembangunan (Oesman Sapta Odang), Wakil Ketua MPR (Hidayat Nurwahid), Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Sidharta Danusubroto), Kepala BIN (Maciano Norman), Gubernur Kalimantan Barat (Drs. Cornelis, M.H), Walikota Pontianak (H. Sutarmidji), Jajaran MUSPIDA serta masyarakat umum. Kedatangan Presiden di Kota Pontianak ini juga disambut dengan tradisi tepung tawar, yang merupakan tradisi khas masyarakat Melayu Pontianak.

Sejak masa-masa awal pembangunannya, Masjid kebanggaan ummat muslim Kalimantan Barat ini menyimpan histori perjuangan panjang. Dipilihnya nama Mujahidin untuk yayasan dan masjid yang dirintis tersebut, diusulkan oleh Achmad Mawardi Djafar, dengan pemikiran mengabadikan perjuangan kaum muslim dalam kancah kolektif mempersembahkan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Mereka maksudkan, Mujahidin sebagai monumen perjuangan ummat. 


Para penggagas yayasan Mujahidin sendiri notabene-nya adalah pelaku sejarah di daerah ini, khususnya Achmad Mawardi Djafar dan H.Achmad Manshur Thahir. Setelah menempuh jangka waktu sekitar 30 tahun sejak inisiatif awal pembangunan yang ditandai dengan didirikannya Yayasan Mujahidin, akhirnya terwujudlah Masjid yang menjadi pusat dakwah islam di tengah Kota Pontianak, dengan nama Masjid Raya Mujahidin. Masjid ini diresmikan Presiden RI Soeharto pada 23 Oktober 1978 bersamaan 20 Zulkaidah 1398 bertepatan Hari Jadi ke 207 Kota Pontianak.


Tahap renovasi/pemugaran Masjid Raya Mujahidin yang dimulai sejak November tahun 2011 ini juga menyimpan makna perjuangannya. Pembangunan yang diketuai oleh Oesman Sapta Odang tersebut, menonjolkan arsitektur khas Kalimantan Barat dan ikon Pontianak sehingga menjadi daya tarik tersendiri sebagai landmark Islami Kota Khatulistiwa. Masjid Raya Mujahidin dapat menampung hingga 9 ribu jamaah. 


Bangunan masjid berlantai dua ini memiliki luas 60 meter x 60 meter di atas lahan seluas kurang lebih 4 hektar. Halaman luar masjid pun juga bisa menampung kurang lebih sebanyak 1.600 mobil jamaah yang akan beribadah di Masjid kebanggaan Kota Pontianak dan Kalimantan Barat tersebut. Keberadaan Masjid Raya Mujahidin dengan "wajahbaru" ini diharapkan dapat semakin menggiatkan dan mendukung aktivitas ibadah kaum muslim maupun sebagai pusat dakwah dan kajian Islam.

sumber Ridho Brilliantoro. 2015. Masjid Raya Mujahidin Jadi Landmark Islami Kota Pontianak. (Online) http://pontinesia.com/index.php?berita&id=15. Diakses : 20 Juni 2015.

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Jami 

Masjid Jami – atau dengan nama lainnya Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid ini menjadi saksi bisu tiap-tiap peristiwa yang terjadi di Pontianak sejak datangnya Rombongan Sultan karena merupakan masjid tertua di Pontianak dan di bangun pada abad ke-18. Salah satu hal menariknya adalah, Masjid ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya walaupun sudah dilakukan beberapa perbaikan.

Lokasi dan Akomodasi

Lokasi dari Masjid Jami berada di persimpangan antara muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak, atau secara administratif berlokasi di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Hanya berjarak sekitar 200 meter dari masjid ini, terletak Istana Kadriyah. Untuk menuju lokasi masjid, anda bisa menggunakan beberapa opsi kendaraan baik kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. 

Jika anda ingin menggunakan kendaraan umum, anda bisa menggunakan angkutan kota dengan jurusan Siantan Hulu ataupun Siantan Hilir yang berwarna putih. Lalu turun tak jauh setelah anda melewati Jembatan Kapuas yakni Jalan Perintis Kemerdekaan. Ongkos yang harus anda bayarkan adalah Rp 2.500,- . setelah anda turun, anda harus menyambung angkutan berupa ojek dengan ongkos sekitar Rp 4.000,- lalu anda bisa langsung tiba di Masjid Jami.

Tetapi, jika anda ingin menikmati perjalanan sembari menikmati indahnya sungai Kapuas, anda bisa naik angkutan air berupa sampan atau speed boat yang bisa anda temukan di Pelabuhan Seng Hie. Perjalanan juga tidak terlalu jauh karena hanya berjarak sekitar 150 meter. Ongkos yang anda keluarkan juga cukup hemat yakni sekitar Rp 5.000,-

Bagi anda yang ingin menggunakan kendaraan sendiri, rute yang harus anda ambil jika dari Jalan Tanjung Pura yang merupakan salah satu Jalan Utama di Pusat Kota Pontianak adalah, ambil jalan menuju selatan dan belok kiri menuju Jalan Perintis Kemerdekaan dan menyebrangi Sungai Kapuas. Lalu berbelok ke kiri, di belokan ketiga setelah anda menyebrang jembatan untuk memasuki Jalan Tanjung Raya 1. Sekitar 1 km, lalu berbelok ke kiri. Tak jauh dari sini anda akan melihat Masjid Jami yang berada di tepi sungai Kapuas.

Untuk masalah kuliner, anda tidak perlu bingung. Di sekitar masjid sudah banyak restoran-restoran terapung yang bisa anda nikmati hidangannya. Serta jika anda ingin membeli oleh-oleh, anda bisa menemukannya disekitar masjid karena di sekitar masjid ini merupakan area yang dihuni oleh banyak masyarakat.

Sejarah Singkat

Pada tanggal 23 oktober 1771 Masehi, rombongan Sultan Syarif Abdullah menemukan sebuah lokasi yang cocok untuk dijadikan pemukiman baru, dimana lokasinya berada di persimpangan sungai Kapuas kecil dan sungai landak. Lalu dimulailah pembabatan hutan untuk dijadikan tempat tinggal. 

Setelah dilakukan pembabatan, dibangunlah sebuah masjid dan pemukiman di tempat ini yang lambat laun berkembang menjadi sebuah kota yakni Pontianak. Pada awalnya masjid ini dibangun dengan atap rumbia dan menggunakan bahan bangunan berupa kayu. Saat ini, bangunan masjid sudah direnovasi tetapi tidak meninggalkan bentuk asli dari sejak awal di bangun.

Wisata

Masjid ini berada di antara perkampungan penduduk di Kampung Beting. Di bagian depan masjid bisa kita lihat hamparan sungai Kapuas, sehingga memperindah suasana ketika berada di Masjid ini. Sedangkan di sisi kiri masjid, anda bisa menemukan pasar ikan tradisional karena lokasi yang berada di pinggir sungai. Beberapa meter ke arah selatan, berdiri kokoh Istana Kadriyah yang menjadi pusat pemerintahan pada masa kesultanan.

Masjid Jami, bisa menampung hingga 1500 jema’ah. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Pontianak dengan ukuran 33,27 x 27,74 meter dan 90% dari bangunan masjid ini terbuat dari kayu belian. Seperti yang dapat dilihat, bahan lantai, dinding, menara, pagar bahkan bedug yang ada di Masjid ini terbuat dari kayu belian. Masjid ini ditopang oleh 6 tonggak besar dengan diameter sekitar 60 cm serta 16 tonggak kecil lainnya yang menyangga masjid. Tonggak-tonggak tersebut pun terbuat dari kayu belian.

Atap masjid memiliki empat tingkat, bahan atap tersebut saat ini sudah terbuat dari sirap dan kayu belian yang tipis. Tingkat kedua masjid dihiasi dengan adanya jendela-jendela kecil serta di tiap sisinya bisa kita lihat gardu yang berjumlah empat buah. Ada yang menginterpretasikan bahwa makna dari jumlah gardu ini adalah sahabat nabi.

Nuansa bergaya eropa juga bisa anda lihat di arsitektur masjid ini yakni dengan bentuk pintu dan jendelanya yang berukuran besar serta terdiri dari dua buah daun pintu. Ya, masjid ini memiliki 3 buah pintu utama yang terletak di depan, dan dua lainnya di sisi kanan dan kiri masjid. Tak sebatas 3 buah pintu saja, masjid ini juga memiliki 20 pintu lainnya yang berukuran lebih kecil, tak sampai 2 meter tingginya, belum lagi banyaknya jendela yang besarnya hampir seukuran dengan pintu. Bentuk dari atap bagian paling atas, yakni atap keempat juga berbentuk mirip seperti lonceng, sehingga memberi kesan adanya percampuran arsitektur bergaya eropa. 

Di bawah masjid, dulunya ada kolong yang dengan tinggi 50 cm. Tapi saat ini sudah di cor dengan semen untuk mengantisipasi pelapukan kayu karena terkikis oleh air sungai Kapuas, karena lokasi masjid yang berdiri langsung tepat di atas sungai Kapuas.

Hal yang cukup menarik di masjid ini adalah bentuk dari mimbar yang mirip dengan geladak kapal yang berhias kaligrafi yang tertulis di dalam plafon di sisi kiri dan kanannya. Hal ini mencirikan budaya timur yang berkembang juga pada kebudayaan di masa itu. Warna kuning, tetap mendominasi isi masjid ini. Karena kseultanan Kadriyah merupakan kesultanan yang erat dengan budaya melayu. Sedangkan atap plafon dari masjid, di cat dengan warna hijau.

Tips
 
1. Jika anda datang dengan angkutan air berupa sampan, sempatkan untuk sedikit mengelilingi pinggiran masjid untuk melihat bangunan ini jika dilihat dari arah sungai Kapuas

2. Ingin merasakan solat di atas perahu? Ketika jema’ah sangat ramai, terutama saat sholat ied, anda bisa melihat beberapa jema’ah yang solat di atas perahu sampan.

3. Tetapi bagi anda yang hanya ingin melihat-lihat, datanglah pada saat sedang tidak berlangsung hari-hari besar Islam agar anda tidak kesulitan untuk melihat-lihat masjid karena suasana yang ramai.

Cukup jarang masjid tertua di suatu kota yang masih mempertahankan bentuk aslinya, salah satunya adalah sebuah Masjid tertua yang berada di kota Pontianak ini, yakni Masjid Jami Syarif Abdurrahman. Selain melihat keadaan masjid, anda juga bisa menikmati indahnya sungai Kapuas dan Istana Kadriyah yang hanya berjarak beberapa meter saja. Selain menikmati wisata sejarah, anda juga mendapati wisata religi dan wisata alam.

sumber NN. 2014. Masjid Jami. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/masjid-jami/. Diakses : 20 Juni 2015.

Makam Kesultanan Pontianak

Komplek Makam Kesultanan Pontianak
Makam Kesultanan Pontianak yang terletak di Batulayang, atau bisa juga disebut dengan Makam Batu Layang adalah lokasi Pemakaman dari Kesultanan Pontianak, mulai dari Sultan Pertama ( Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie ) hingga ( Sultan Hamid II ) serta beberapa keluarga Sultan. Tempat ini biasanya ramai dikunjungi khususnya pada Hari Besar Islam. Makam ini terletak kurang lebih 2 kilometer dari Tugu Khatulistiwa yang dapat dikunjungi dengan menggunakan transportasi darat maupun transportasi air ( sampan ).

Kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Pontianak ini terletak di Batu Layang, Pontianak Utara. Dari sisi dungai kapuas di sekitar makam, dapat kita saksikan keindahan sungai kapuas, terlebih lagi pada saat matahari terbenam.

sumber disbudparpontianak. 2014. Makam Kesultanan Pontianak. (Online) http://disbudparpontianak.blogspot.com/2014/07/makam-kesultanan-pontianak.html/. Diakses : 20 Juni 2015.

Istana Kadriyah – Pontianak

Keraton Kadriah Pontianak

Istana Kadriyah – Pernahkah anda mendengar tentang asal-usul kota Pontianak? Asal-muasal kota Pontianak ini berkaitan erat dengan Keraton Kadriyah, atau yang terkenal dengan nama Istana Kadriyah. Merupakan salah satu bangunan yang bernilai historis tinggi, dan berasal dari masa kesultanan di Pontianak.

Lokasi dan Akomodasi

Istana Kadriyah yang merupakan istana terbesar di kota Pontianak itu sendiri terletak di Pinggiran antara Sungai Kapuas dan Sungaia Landak, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, tepatnya berada di Kampung Dalam, Tanjung Hilir, Pontianak Utara, lokasinya juga hanya berjarak kurag lebih sekitar 100 meter dari tepi sungai tersebut. Untuk menuju ke lokasi Istana Kadriyah ini, anda menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi, hal ini di karenakan lokasi Istana Kadriyah ini berada tidak jauh Pusat kota Pontianak sehingga tidak akan terlalu sulit untuk menemukannya.

Jika anda menggunakan kendaraan sendiri, anda bisa mulai start dari pusat kota Pontianak, lurus saja samai bertemu jalan urip sumiharjo, lalu terus saja menuju jalan Tanjung Pura belok kanan, lurus terus hingga anda sampai di simpang 4 lampu merah, belok ke kiri menuju jalan Perintis kemerdekaan, setelah bertemu dengan jalan Tanjung Raya dibelokkan pertama disebelah kiri anda belok ke sana, ikuti saja jalan hingga di sebelah kiri anda bisa melihat Gapura yang merupakan gerbang dari Istana Kadriyah itu, akan tetapi jika anda masih bingung untuk menemukan jalannya, jangan ragu untuk bertanya-tanya kepada warga sekitar.

Namun, jika anda menggunakan kendaraan umum, anda bisa menggunakan angkutan kota (angkot) yang berwarna putih dengan rute atau jurusan Siantan Hilir, angkot ini berangkat dari terminal Kapuas dan berhenti setelah anda sampai di jalan Perintis Kemerdekaan.

Atau angkot yang berwarna putih juga dengan jurusan Siantan Hulu, akan tetapi pastikan pastikanlah kepada sang supir jiks angkot tersebut melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan. Lalu, setelah sampai di jalan Perintis Kemerdekaan anda bisa meanjutkan naik ojek atau becak untuk sampai ke lokasi Istana Kadriyah, atau anda bisa memanggil taksi jika tidak ingin kepanasan.

Ada juga beberapa angkot lain yang bisa anda gunakan, contohnya angkot berwarna Kuning jurusan Sungai Raya, angkot berwarna Biru Tua jurusan Penjara-Kapuas, atau angkot Hijau muda jurusan sungai Jawi, bila anda sudah sampai di jalan Tanjung Pura, anda berhenti dan menyambung bus yang meewati jembatan Kapuas, jika sudah sampai di jalan Tanjung Raya, anda bisa menyambung naik becak atau ojek. Lalu, jika anda naik angkot berwarna Biru Tua dengan jurusan Penjara-Gajah Mada, anda berhenti di jalan Veteran untuk menyambung bus untuk sampai di jalan Perintis Kemerdekaan dan Tanjung Raya.

Ongkos angkot dan bus kota yang harus anda keluarkan untuk menuju ke lokasi Istana Kadriyah ini juga tidak berbeda, semuanya sama, yaitu Rp 2.500,- sedangkan harga ojek dari Tanjung Raya ke Istana Kadriyah ini sekitar Rp 5.000,-. Selain menggunakan kendaraan umum, anda juga bisa menggunakan taksi, untuk harganya tentu saja berdasarkan perhitungan argometer taksi tersebut, dengan seberapa jauh jarak anda dengan lokasi tujuan anda.

Sejarah Singkat

Istana Pontianak yang bernama Kadriyah ini, dulunya di dirikan oleh Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri pada tahun 1771 M, dimana saat masih muda beliau merupakan pedagang yang sering bekerja sama dengan saudagar-saudagar dari berbagai Negara, dan telah sering mengunjungi berbagai daerah di wilayah Nusantara, dan setelah membangun istana kadriyah, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri (1738-1808 M) dinobatkan menjadi sultan pertama di kota Pontianak ini.

Ruang Utama Keraton
Wisata

Istana Kadriyah yang berada di tepian sungai Kapuas dan Sungai Landak ini, ukurannya berkisar 30 x 50 meter persegi dan mempunyai 3 tingkat atau 3 lantai, karena memang Istana Kadriyah ini merupakan istana terbesar di Provinsi Kalimantan Barat. Istana kota Pontianak yang megah ini pun telah mengalami proses renovasi dan rekonstruksi sehingga bisa sebesar yang bisa anda lihat sekarang, meskipun memang sekarang keadannya agak kurang terawat, tetapi masih tetap menampilkan ciri khas dari bentuk aslinya.

Jika anda datang ke Istana Kadriyah ini maka dihalamannya yang amat luas itu anda bisa melihat 13 buah koleksi meriam kuno dari Portugis dan Perancis pada tiap sisi, misalnya di sisi kanan, tengah, dan kiri dari bagian depan istana. Dari bagian depan itu juga anda bisa melihat sebuah anjungan (seperti sebuah ruangan yang agak maju kearah depan atau mirip halnya seperti balkon, namun bedanya kalau balkon itu umumnya terletak di lantai-lantai atas). Dulunya, anjungan ini sering di gunakan sultan untuk bersantai-santai sembari menikmati keindahan yang di pamerkan oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak tersebut.

Disana juga terdapat sebuah lonceng besar yang digunakan sebagai alarm, jadi bila anda sedang berkunjung kesana dan tidak sengaja terjadi hal-hal yang darurat, jangan kaget jika anda anda mendengar gema lonceng yang kuat, sebaiknya anda jangan terlalu dekat dengan posisi lonceng.

Pada pintu utama Istana Kadriyah ini anda bisa melihat hiasan seperti mahkota dengan 3 buah ukiran yang menyerupai bentuk bulan dan bintang, dimana katanya ukiran tersebut melambangkan agama islam, jadi hal tersebut menandakan bahwa Kesultanan Pontianak ini adalah kesultanan islam.

Istana Kadriyah ini juga memiliki sebuah balai pertemuan yang jika anda masuk ke dalam ruangan tersebut, anda akan melihat betapa warna kuning sangat mendominasi seisi ruangan, hal ini dikarenakan menurut adat melayu warna kuning adalah warna yang melambangkan kewibawaan dan tingginya budi pekerti suatu kaum. Balai pertemuan ini selalu dijadikan tempat untuk melakukan upacara keagamaan atau tempat untuk menerima tamu-tamu sultan. Di ruangan ini juga anda bisa melihat bentuk dari singgasana sultan dan permaisurinya. Selain itu, anda juga bisa melihat beberapa foto dari para sultan kota Pontianak, serta lambang dari kesultanan Pontianak itu sendiri.

Tips
 
1. Ajaklah keluarga dan teman-teman anda untuk mengunjungi Istana Kadriyah ini, dan sempatkan untuk menyaksikan pemandangan indah serta akifitas di dermaga feri di sungai Kapuas dari anjungannya.

2. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan bagaimana bentuk kamar-kamar keluarga sultan, siapa tau anda ingin mencontoh dekorasinya untuk kamar anda.

3. Cicipilah beberapa kuliner khas kota Pontianak disekitar Istana Kadriyah ini, jangan lewatkan tempat belanja yang ada di sekitar Istana Kadriyah ini karena belum tentu anda bisa menemmukannya di pasar lainnya.

Sangat menarik kan? Jadi, jangan lewatkan tempat bersejarah yang satu ini ya, dengan begitu anda bisa tau siapa saja yang mempelopori awal terbentuknya kota pontianak ini, dan bagaimana cantiknya pemandangan sungai kapuas dari sana.

sumber NN. 2014. Istana Kadriyah. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/istana-kadriyah/. Diakses : 20 Juni 2015.

Taman Makam Batu Layang

Makam Kesultanan Pontianak
Taman Makam Batu Layang – dari namanya saja sudah bisa terlihat kalau tempat ini merupakan tempat pemakaman. Lantas, apa yang membuatnya istimewa di Kota yang akrab dengan sebutan Bumi Khatulistiwa ini? Makam ini menjadi istimewa karena merupakan kompleks pemakaman dari Sultan-sultan di Pontianak beserta beberapa keluarga Sultan, sehingga menjadi salah satu tempat yang sering di datangi wisatawan ataupun penduduk lokal.

Lokasi dan Akomodasi

Letak Taman Makam Batu Layang ini berada sekitar 7 km dari pusat kota Pontianak atau tepatnya 2 km dari lokasi Tugu Khatulistiwa. Lokasi makam ini berada di kelurahan Batu Layang, Pontianak. Tentunya untuk menuju lokasi pemakaman ini anda bisa menggunakan beberapa alternatif kendaraan, baik kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Jika anda menggunakan kendaraan pribadi dan belum tahu rute yang harus di ambil, ambillah start perjalanan anda dari Jalan Tanjung Pura, dari sini ikuti jalan utama hingga anda menemukan simpang tiga. Lalu belok kiri menuju Jalan Perintis Kemerdekaan dan menyebrangi sungai Kapuas. 

Jalan lurus, hingga anda memasuki Jalan Sultan Hamid 2 dan dilanjutkan dengan belok kiri memasuki Jalan Gusti Situt Mahmud dan Jalan Khatulistiwa, anda akan melewati Tugu Khatulistiwa, tinggal 2 km lagi dari sini dan anda akan melewati Jalan Mempawah-Pontianak dan belok ke kiri, sekitar 220 meter belok ke kanan. Sekitar 40 meter anda akan melihat belokkan pertama ke kanan, ambil jalan situ dan anda sudah bisa melihat pendopo dari Taman Makam Batu Layang ini.

Jika anda ingin menggunakan angkutan umum, anda bisa menggunakan angkutan darat maupun melalui sungai Kapuas dengan alat transportasi air, karena letak Taman Pemakaman yang berada di tepian sungai Kapuas. Jika anda ingin menikmati perjalanan di atas sungai Kapuas, anda bisa naik perahu berupa sampan dari pelabuhan kota di Pontianak dengan ongkos sebesar Rp 10.000,- saja dan bisa langsung mengantar anda ke area Taman Pemakaman Batu Layang. 

Tapi, jika anda ingin menggunakan kendaraan darat, anda bisa naik angkot dengan jurusan atau rute Sungai Raya yang berwarna kuning. Ketika anda naik angkot ini, anda harus berhenti di sepanjang Jalan Imam Bonjol atau awal-awal memasuki Jalan Adi Sucipto, karena anda harus menyambung angkutan umum berupa bis jurusan BLKI yang akan datang dari arah Jalan Abdurrahman Saleh. 

Ketika anda memasuki Jalan Pontianak-Mempawai lihat sisi kiri jalan untuk melihat tulisan petunjuk area Taman Makam Batu Layang, berhenti di tempat itu dan anda bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ongkos angkot dan bis adalah Rp 2.500,- jadi walaupun agak repot tetapi ongkos yang anda keluarkan lebih hemat yakni dengan ongkos total Rp 5.000,-. Selanjutnya terserah anda untuk menentukan alat transportasi yang anda inginkan.

Wisata

Ketika anda tiba di Taman Makam Batu Layang, suasana warna kuning dan emas sangat mendominasi, baik dari gerbang masuk, pagar pendopo, dinding bangunan, bahkan warna pemakamannyapun identik dengan warna kuning dan emas. Hal ini tak lain karena warna kuning dan emas merupakan ciri khas dari warna kebudayaan melayu yang memang menjadi karakteristik kesultanan Kadriah. 

Selain bernuansa Melayu, Taman Pemakaman ini juga memiliki nuansa Islami yang kental karena, bisa dilihat dari ukiran-ukiran kayu yang tampak di nisan maupun di makam yang ada di Taman Makam Batu Layang. Ukiran-ukiran tersebut bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini cukup membuktikan bahwa, pada masanya Kesultanan Kadriyah memiliki percampuran antara budaya Melayu dan Islam atau dengan kata lain budaya arab.

Ketika kita memasuki area pemakaman, kita diharuskan melepas alas kaki, karena Taman pemakaman ini merupakan tempat yang sangat dijaga kebersihannya. Selain itu, untuk memasuki Taman Pemakaman Batu Layang, anda tidak perlu merogoh saku anda, karena tidak dipungutnya biaya masuk. Sehingga cukup menghemat biaya wisata anda. Keunikan lain dari pemakaman ini adalah, ada beberapa makam yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa.

Dalam Taman Makam Batu Layang ini, ada tujuh buah makam sultan, selebihnya merupakan makam dari keluarga sultan seperti Permaisuri dan keluarga Sultan lainnya. Ketujuh Sultan yang dimakamkan disini berdasarkan urutan dari sultan pertama hingga ketujuh adalah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadri selaku pendiri Kesultanan Kadriah, Sultan Sayid Kasim Al-Kadri, Sultan Syarif Oesman Al-Kadri, Sultan Syarif Hamid I, Sultan Syarif Yusuf Al-Kadri, Sultan Syarif Muhammad Al-Kadri dan terakhir Sultan Syarif Hamid II.

Di antara makam-makam yang ada di sini, makam Sultan Syarif Abdurahman Al-Kadri lah yang menjadi pusat pemakaman ini, karena dibuatkan tempat atau ruangan khusus di tengah-tengah bangunan komplek pemakaman. Ruangan tersebut agak mirip seperti bungker dan ketika kita akan memasuki ruangan ini, jarak dinding langit-langit cukup rendah sehingga sewaktu memasuki ruangan ini kita harus membungkuk. 
Hal ini bukan tidak ada maknanya, ketika kita membungkuk melambangkan rasa hormat pada Sultan yang menjadi pendiri dari Kesultanan Kadriah Pontianak. Ada sebuah cerita yang berkembang di masyarakat sekitar, jika kita berfoto di dekat makam Sultan, terkadang jika anda beruntung, di foto itu muncul sosok sang Sultan.
Alasan dari area pemakaman ini dinamakan batu layang adalah, adanya gundukan batu-batu besar di luar area pemakaman. Batu-batu ini dicat dengan warna hijau, konon ceritanya, batu ini dulunya berada di seberang pulau, tetapi berpindah dengan sendirinya ketempat yang sekarang, maka dari itu dinamai Batu Layang. Di dekat gundukkan batu ini, anda bisa melihat benda yang di cat dengan warna kuning yang merupakan sebuah meriam. 
Banyak penduduk atau wisatawan lokal yang datang mengunjungi Taman Pemakaman Batu Layang ini untuk berziarah dan mendoakan para Sultan dan keluarga. Selain berdoa di area pemakaman, ada juga yang berdoa sembari beribadah di Surau yang ada di dekat area pemakaman.
Tips

1. Jika anda tergolong penakut, sebaiknya jangan berfoto di dekat batu layang, atau tak perlu tau mitos yang berkembang. Karena, di sekitar sini sering ada cerita mistik, terutama di sekitar Batu Layang.

2. Sebaiknya gunakan angkutan air berupa sampan jika anda tidak ingin repot, karena anda tidak perlu berjalan untuk menuju area Taman Pemakaman.
3. Bagi anda yang muslim, cukup mendoakan saja. Jangan sampai mengikuti perbuatan musyrik jika anda melihat beberapa orang yang berlaki demikian.
4. Datanglah pada hari-hari besar Islam, karena pada saat itu biasanya Makam Batu Layang, ramai dikunjungi.
Bagi anda pecinta sejarah dan kebudayaan, terutama kerajaan-kerajaan melayu, Taman Makam Batu Layang ini bisa menjadi sumber pengetahuan anda. Karena, jika anda memang ingin berniat mengetahui cerita tentang Sultan, anda bisa bertanya pada juru kunci makam. 
Jadi, anda bisa menelusuri kisahnya serta mendapatkan pengalaman baru. Selain itu, anda bisa menikmati keindahan sungai Kapuas karena letak Taman Pemakaman yang ada di tepian sungai Kapuas dan selamat berwisata ke tempat yang menjadi cikal bakal kota Pontianak ini.

sumber NN. 2014. Taman Makam Batu Layang. (Online) http://jalan2.com/city/pontianak/taman-makam-batu-layang/. Diakses : 20 Juni 2015.